banner 1280x160

Ini Peta Inflasi Jabar Selama Ramadan 2026

BalikBandung, – Peningkatan permintaan masyarakat pada momen Ramadan dan perayaan Idul Fitri mendorong kenaikan harga pada sejumlah kebutuhan pokok serta tarif transportasi.

Hal ini mendorong inflasi sebesar 0,52 persen secara _month to month_ pada Maret 2026, inflasi tahun kalender _(year to date)_ sebesar 1,24 persen, dan inflasi tahunan _(year on year)_ sebesar 3,60 persen di Jawa Barat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati menjelaskan upaya pengendalian inflasi yang dilakukan pemerintah cukup berhasil menahan laju inflasi, terbukti dengan inflasi bulan Maret ini tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi bulan Februari yang mencapai 0,81 persen walau bertepatan dengan momen Ramadan dan Idul Fitri.

“Pemerintah telah melakukan berbagai upaya pengendalian harga melalui Gerakan Pangan Murah serta pemberian diskon tarif tol dan kereta api selama periode mudik untuk meredam laju inflasi.”, ujar Ari sapaan akrab Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Rabu (1/4/2026)

Jika dibedah lebih rinci menurut kelompok pengeluaran, penyumbang inflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,38 persen, diikuti kelompok transportasi sebesar 0,09 persen.

Sedangkan menurut komoditas utama yang memberikan andil inflasi di antaranya adalah daging ayam ras sebesar 0,06 persen, beras dan bensin masing-masing sebesar 0,05 persen, tarif angkutan antar kota sebesar 0,04 persen, dan minyak goreng sebesar 0,03 persen.

Secara spasial, dari 10 kabupaten/kota yang dipantau, Kota Cirebon mengalami inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,68 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Bekasi sebesar 0,39 persen.

“Secara historis, inflasi Ramadan dan Idul Fitri tahun ini lebih rendah dibandingkan inflasi pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini dikarenakan pada tahun 2025 Ramadan dan Idul Fitri terjadi pada satu bulan penuh yaitu bulan Maret.”, jelas Ari.

Secara year on year, Maret 2026 di Jawa Barat mengalami inflasi sebesar 3,60 persen. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 4,71 persen.

“Low base effect dari diskon tarif listrik tahun lalu masih berpengaruh terhadap angka inflasi secara yoy. Jika pengaruh tarif listrik ini dikeluarkan dalam penghitungan, secara yoy Maret 2026 hanya 2,61 persen.”, pungkasnya