banner 1280x160

Belasan Jiwa Bertahan di Rumah Nyaris Roboh

BalikBandung,- Di sudut permukiman yang nyaris luput dari perhatian, sebuah rumah berdinding bilik rapuh berdiri menantang waktu. Atapnya bocor di sana-sini, lantainya masih berupa tanah, dan setiap hembusan angin kencang membuat dindingnya bergoyang.

Di sanalah Saparudin (56) bertahan—bersama 11 anggota keluarganya—menggantungkan harapan di tengah keterbatasan.

Rumah sederhana itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan satu-satunya perlindungan bagi 12 jiwa yang hidup di dalamnya. Namun setiap kali hujan turun, rasa cemas tak pernah absen. Air merembes dari atap yang lapuk, membasahi perabot seadanya, bahkan kerap membuat mereka harus berjaga sepanjang malam.

“Kalau hujan deras, takut roboh. Air masuk ke mana-mana,” ujar Saparudin lirih saat ditemui di Babakan Cikeruh, Kabupaten Bandung, Rabu (1/4/2026)

Selama lebih dari dua dekade, sejak pertama kali menempati rumah itu pada tahun 2000, tak pernah ada perbaikan berarti. Waktu justru membuat kondisinya kian memprihatinkan.

Untuk menyambung hidup, Saparudin mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas, memperbaiki rumah jelas bukan perkara mudah.

“Iya, kerja serabutan saja, belum jelas penghasilannya tiap hari berapa,” katanya.

Harapan sempat muncul ketika aparat wilayah beberapa kali datang melakukan pendataan. Dari desa hingga kecamatan, proses pengajuan bantuan disebut sudah berulang kali dilakukan. Bahkan dokumentasi dan pengambilan foto telah berkali-kali dilakukan sebagai syarat administrasi.

Namun harapan itu kembali pupus.
“Sudah sering didata, difoto juga. Dari tahun 2013 sampai sekarang belum ada realisasi,” ungkapnya.

Menurut Saparudin, kunjungan terakhir datang pada Februari lalu dari pihak partai politik. Lagi-lagi, hanya sebatas pendataan tanpa tindak lanjut nyata.

“Terakhir bulan dua kemarin ada yang datang. Tapi ya begitu, belum ada kabar lagi,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, bantuan sosial seperti BLT memang sesekali ia terima. Namun, bantuan yang paling ia butuhkan—perbaikan rumah—belum juga datang.
Padahal, bagi Saparudin, rumah yang layak bukan sekadar tempat berteduh. Itu adalah jaminan keselamatan bagi keluarganya, terutama saat cuaca buruk datang tanpa kompromi.

Kini, di balik dinding bilik yang kian lapuk, Saparudin hanya bisa menaruh harapan—bahwa suatu hari nanti, ada tangan yang benar-benar tergerak untuk membantu, bukan sekadar datang, mendata, lalu pergi.

“Harapan saya, ada yang mau membantu. Supaya kami bisa tinggal dengan aman,” tutupnya dengan nada penuh harap.