banner 1280x160

Finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 Diajak Melihat Ketimpangan Akses Kesehatan Gigi Lewat Negeri Susah Senyum

Finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 menyaksikan film dokumenter "Negeri Susah Senyum" saat melakukan kunjungan di FDC Cabang Bandung, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Senin (17/8/2026). BB/Gani Kurniawan

BANDUNG, BalikBandung.id – Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, akses terhadap layanan kesehatan gigi dan mulut ternyata masih belum bisa dirasakan secara merata oleh masyarakat di pelosok negeri.

Jarak yang jauh dari fasilitas kesehatan, minimnya tenaga medis, hingga stigma terhadap dokter gigi membuat persoalan kesehatan gigi tak hanya menjadi masalah medis. Di sejumlah daerah, keterbatasan akses bahkan membuka ruang bagi berkembangnya mitos dan praktik pengobatan alternatif yang belum tentu aman.

Kondisi tersebut tergambar dalam film dokumenter “Negeri Susah Senyum”, yang merekam perjalanan para dokter gigi saat melakukan riset sekaligus pelayanan kesehatan dasar di Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi.

Finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 menyaksikan film dokumenter “Negeri Susah Senyum” saat melakukan kunjungan di FDC Cabang Bandung, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Senin (17/8/2026). BB/Gani Kurniawan

Film produksi Anatman Pictures tersebut tak hanya memperlihatkan kondisi kesehatan gigi masyarakat adat, tetapi juga perubahan pola hidup yang mulai berdampak terhadap kesehatan generasi muda.

Drg. Ahmad Syahrul Mubarok dari FDC Dental Clinic, salah satu dokter gigi yang terlibat dalam kegiatan tersebut, menemukan fakta menarik. Generasi sepuh di Kasepuhan Ciptagelar justru memiliki kondisi gigi yang relatif lebih baik dibandingkan anak-anak.

“Generasi sepuh di Ciptagelar memiliki gigi yang jauh lebih kuat karena asupan makanan yang natural dan rendah gula. Keluhan utama mereka rata-rata hanyalah atrisi atau keausan gigi akibat konsumsi makanan bertekstur keras,” kata Ahmad saat peluncuran film Negeri Susah Senyum di FDC Dental Clinic, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Senin (17/8/2026).

Tiga narasumber menceritakan film dokumenter “Negeri Susah Senyum” kepada para Finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 yang sedang melakukan kunjungan di FDC Cabang Bandung, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Senin (17/8/2026). BB/Gani Kurniawan

Sebaliknya, persoalan karies cukup memprihatinkan ditemukan pada anak-anak. Bahkan, pada usia sekitar tujuh tahun, sebagian anak sudah mengalami kerusakan berat pada gigi susu akibat karies rampan.

Perubahan pola konsumsi menjadi salah satu pemicunya. Makanan modern dengan kandungan gula tinggi dan makanan olahan mulai masuk ke lingkungan kasepuhan dan perlahan menggantikan pola konsumsi masyarakat yang sebelumnya lebih banyak mengandalkan bahan pangan alami.

Persoalan tersebut diperparah keterbatasan akses layanan kesehatan gigi. Ketiadaan dokter gigi dan minimnya fasilitas kesehatan membuat masyarakat harus menempuh perjalanan jauh ketika membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 menyimak paparan 5 Pilar FDC Foundation saat melakukan kunjungan di FDC Cabang Bandung, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Senin (17/8/2026). BB/Gani Kurniawan

Untuk memperoleh layanan kesehatan yang lebih memadai, masyarakat harus menuju fasilitas kesehatan di wilayah Pelabuhanratu. Perjalanan darat dapat memakan waktu sekitar empat jam dengan kondisi jalan yang tidak mudah dilalui.

Bagi masyarakat yang tengah mengalami sakit gigi, jarak tersebut tentu menjadi persoalan tersendiri. Kondisi inilah yang kemudian turut membuka ruang berkembangnya mitos maupun pengobatan alternatif yang tidak selalu dilakukan secara higienis.

“Stigma bahwa ke dokter gigi menakutkan, lama dan mahal, juga masih sangat melekat. Oleh karena itu, pendekatan kami sangat personal dengan memberikan edukasi dasar serta penanganan darurat, seperti penambalan dan pencabutan gigi,” ujar Ahmad.

Finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 menerima cinderamata saat melakukan kunjungan di FDC Cabang Bandung, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Senin (17/8/2026). BB/Gani Kurniawan

Menurutnya, karies gigi masih menjadi salah satu persoalan kesehatan gigi yang dominan di Indonesia. Ia menyebut sekitar 80 persen masyarakat mengalami karies, sementara pemerintah menargetkan Indonesia dapat bebas karies pada 2035.

Buka Mata Generasi Muda

Pesan mengenai ketimpangan akses kesehatan gigi tersebut turut disampaikan kepada generasi muda.

Penayangan perdana Negeri Susah Senyum mengajak para finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 untuk menyaksikan langsung film dokumenter tersebut.

Tak sekadar menonton, para finalis juga diajak berdiskusi dan membahas persoalan yang diangkat dalam film bersama narasumber yang terlibat dalam proses produksi maupun kegiatan lapangan.

Finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 menyimak paparan 5 Pilar FDC Foundation saat melakukan kunjungan di FDC Cabang Bandung, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Senin (17/8/2026). BB/Gani Kurniawan

Salah satu finalis asal Kabupaten Sukabumi, Djemima Shireen Ferdinand, mengaku gambaran dalam film tersebut terasa dekat dengan kehidupan masyarakat di daerahnya.

Sebagai putri daerah, Djemima tumbuh di kawasan pesisir Sukabumi. Meski lokasi tempat tinggalnya cukup jauh dari Kasepuhan Ciptagelar, ia menilai persoalan keterbatasan akses dan edukasi kesehatan yang ditampilkan dalam film merupakan realitas yang masih ditemui masyarakat.

Finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 menyimak paparan 5 Pilar FDC Foundation saat melakukan kunjungan di FDC Cabang Bandung, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Senin (17/8/2026). BB/Gani Kurniawan

“Film ini memperlihatkan kondisi yang memang terjadi di lapangan dan bukan sekadar cerita yang dibangun untuk kepentingan film,” kata Djemima.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bagi generasi muda, khususnya putra-putri daerah, untuk ikut menyuarakan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut.

Bawa Pesan Senyum Lebih Jauh

Founder dan CEO FDC Dental Clinic, drg. Ita Lestari, mengatakan film Negeri Susah Senyum dibuat untuk membuka mata masyarakat bahwa akses kesehatan gigi di Indonesia masih belum merata.

Founder dan CEO FDC Dental Clinic, Ita Lestari (kiri) menyampaikan paparan kepada para Finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 yang sedang melakukan kunjungan di FDC Cabang Bandung, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Senin (17/8/2026). BB/Gani Kurniawan

Menurut Ita, persoalannya bukan hanya soal ketersediaan dokter dan fasilitas kesehatan, tetapi juga stigma yang telanjur melekat di tengah masyarakat.

“Pemutaran film dokumenter Negeri Susah Senyum baru pertama kali dilakukan. Kami akan menggiatkan pemutaran film ini karena ada misi sosial, yaitu menyebarkan senyum ke semua orang,” ujar Ita.

National Head of Sales and Operation FDC Dental Clinic, Aris Budiarto (kiri) menyampaikan paparan kepada para Finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 yang sedang melakukan kunjungan di FDC Cabang Bandung, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Senin (17/8/2026). BB/Gani Kurniawan

Pada akhirnya, Negeri Susah Senyum tidak hanya bercerita tentang gigi yang sakit atau fasilitas kesehatan yang berjarak jauh.

Film tersebut juga berbicara tentang jarak antara masyarakat pelosok dengan dokter gigi, antara pengetahuan medis dengan mitos, serta antara pola hidup tradisional dengan perubahan konsumsi yang semakin modern.

Finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 menjalani pemeriksaan dan layanan konsultasi gigi saat melakukan kunjungan di FDC Cabang Bandung, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Senin (17/8/2026). BB/Gani Kurniawan

Di usia Indonesia yang menginjak 81 tahun, persoalan tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya terasa ketika layanan kesehatan dasar masih menjadi perjuangan bagi sebagian masyarakat.

Sebab, senyum seharusnya bukan kemewahan.*