banner 1280x160
Ragam  

Rocknroll Theatre dan Sembilan Tera Tampil Bareng di Bandung

Rocknroll Theatre dan Sembilan Tera saat mengikuti sesi konferensi pers di Braga Sky 1957, Selasa (29/9/2026). (BB/Gani Kurniawan)

BALIKBANDUNG.id – Dua grup musik di bawah naungan Lokanada, Rocknroll Theatre dan Sembilan Tera, tampil bareng dalam pertunjukan musik di Braga Sky 1957, Kota Bandung, Selasa (29/9/2026).

Penampilan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengenalan proyek musik terbaru kedua grup yang sebelumnya menggelar konferensi pers di lokasi yang sama.

Rocknroll Theatre dan Sembilan Tera berpose bersama usai memperkenalkan proyek musik terbaru mereka di Braga Sky 1957, Kota Bandung. (BB/Gani Kurniawan)

Kehadiran kedua grup tersebut membawa warna berbeda. Rocknroll Theatre hadir sebagai supergroup yang mempertemukan sejumlah musisi berpengalaman dari berbagai band legendaris Indonesia. Sementara Sembilan Tera memperkenalkan karya terbaru berjudul “Second Choice”, yang ditulis dan diciptakan oleh Arie Axara.

Rocknroll Theatre mengusung konsep “The Living Legends Supergroup”. Formasinya diisi para musisi yang sebelumnya dikenal melalui sejumlah band, di antaranya Element, Naif, Slank, BIP, Gugun Blues Shelter, DOT, Bunga, Voodoo hingga Juliette.

Formasi tersebut terdiri atas Tony Vialy pada vokal, Ferdy Tahier pada keyboard dan vokal, Eza Yayang pada perkusi dan vokal, Gugun pada gitar, Jarwo pada gitar, Edo Widiz pada gitar, Bongky Marcel pada bass, serta Bimo Sulaksono pada drum.

Rocknroll Theatre tampil di atas panggung Braga Sky 1957 dengan membawakan sejumlah lagu populer. (BB/Gani Kurniawan)

Konsep Rocknroll Theatre tidak sekadar menghadirkan nostalgia musik lintas generasi. Para personelnya membawa pengalaman panjang di industri musik sekaligus membawakan kembali sejumlah lagu yang telah dikenal luas publik dengan aransemen baru.

Beberapa lagu yang dibawakan di antaranya “Rahasia Hati” dan “Cinta Sejati” dari Element, “Kasih Jangan Kau Pergi” dari Bunga, “Mobil Balap” dan “Benci Untuk Mencinta” dari Naif, “Bukannya Aku Takut” dari Juliette, serta “Terlalu Manis” dan “Kamu Harus Cepat Pulang” dari Slank.

Ferdy Tahier mengatakan, kekuatan Rocknroll Theatre salah satunya terletak pada lagu-lagu yang telah memiliki kedekatan dengan pendengar dari berbagai generasi.

Rocknroll Theatre tampil di atas panggung Braga Sky 1957 dengan membawakan sejumlah lagu populer. (BB/Gani Kurniawan)

“Sudah kita buktikan lagu-lagu kita itu didengar oleh lintas generasi. Jadi mudah-mudahan Rocknroll Theatre bisa menjadi sesuatu yang berbeda, karena kita membawa lagu-lagu yang sudah punya kenangan bagi banyak orang,” kata Ferdy.

Menurutnya, Rocknroll Theatre juga menjadi ruang bagi para musisi berpengalaman untuk kembali berkarya sekaligus mempertemukan musik lintas generasi dalam satu panggung.

“Jadi bukan sekadar membicarakan masa lalu atau nostalgia, tetapi bagaimana kita bisa terus berkarya dan menghadirkan sesuatu yang baru,” ujarnya.

Sementara itu, Sembilan Tera yang memperkenalkan lagu “Second Choice”, mengangkat kisah seseorang yang tetap bertahan dalam sebuah hubungan meski menyadari dirinya bukanlah pilihan utama.

Dikemas dengan pendekatan alternative/emotional pop-rock, “Second Choice” memadukan lirik berbahasa Indonesia dan Inggris. Lagu tersebut menggambarkan perjalanan emosional mulai dari berharap, menunggu, hingga akhirnya menerima dan melepaskan.

Penampilan Sembilan Tera membawakan karya musik mereka di panggung Braga Sky 1957. (BB/Gani Kurniawan)

Arie Axara menjelaskan, “Second Choice” lahir dari pengalaman emosional yang dekat dengan kehidupan banyak orang, terutama ketika seseorang berada dalam hubungan yang membuatnya terus menunggu untuk dipilih.

“Second Choice bercerita tentang seseorang yang sadar bahwa dirinya bukan pilihan utama, tetapi tetap bertahan karena masih berharap. Sampai akhirnya dia menyadari bahwa berhenti menunggu untuk dipilih juga merupakan sebuah bentuk keberanian,” kata Arie.

Ia menegaskan, lagu tersebut tidak ingin menggambarkan perpisahan dengan kemarahan ataupun penyesalan. Sebaliknya, “Second Choice” mencoba menghadirkan sisi penerimaan ketika seseorang berani melepaskan hubungan yang tidak lagi memberikan ruang bagi dirinya.

“Tidak ada kemarahan, tidak ada penyesalan. Ada fase ketika kita harus menerima bahwa tidak semua hubungan harus dipertahankan. Kadang, melepaskan justru menjadi keputusan yang paling jujur untuk diri sendiri,” tuturnya.

Penampilan Sembilan Tera membawakan karya musik mereka di panggung Braga Sky 1957. (BB/Gani Kurniawan)

Kolaborasi proyek Rocknroll Theatre dan Sembilan Tera di bawah Lokanada memperlihatkan dua pendekatan berbeda dalam berkarya. Rocknroll Theatre membawa pengalaman panjang para musisinya melalui repertoar lagu yang telah dikenal lintas generasi, sedangkan Sembilan Tera menawarkan karya baru dengan cerita yang lebih personal.

Keduanya menjadi bagian dari upaya menghadirkan karya musik yang tidak hanya bertumpu pada nostalgia, tetapi juga membuka ruang bagi lahir dan berkembangnya karya-karya baru.

Usai menggelar konferensi pers, Rocknroll Theatre dan Sembilan Tera kemudian tampil dalam sebuah pertunjukan musik di panggung Braga Sky 1957. Keduanya membawakan penampilan masing-masing dan menghibur penonton dengan karakter musik yang mereka usung.

Dengan penampilan tersebut, Rocknroll Theatre dan Sembilan Tera tidak hanya memperkenalkan proyek musik masing-masing, tetapi juga memperlihatkan dua karakter berbeda dalam satu panggung, yakni kekuatan pengalaman para musisi senior dan semangat eksplorasi karya baru.*