Livi Zheng, Penulis Rilis yang Kebetulan Jadi Sutradara

Kisah manis Livi Zheng sutradara yang namanya melejit karena banyak bicara pada wartawan nyatanya tak langgeng. Berkat keemberannya pada media itu, Livi kini menanggung kritik pedas dari sineas-sineas tanah air, maupun tanah maya.

Joko Anwar menjadi salah satunya. Ia cukup vokal mengkritik Livi, dengan menyebutnya panutan yang buruk bagi calon sineas yang ingin memulai karirnya di perfilman. Sutradara Gundala ini dengan tegas menyatakan film Livi adalah contoh buruk, dan tidak bisa menjadi benchmark film berkualitas.

Livi juga di’gebuk’ habis-habisan oleh media, yang sebelumnya jadi sobat karibnya. Tirto, dan Vice Indonesia, banyak memuat tulisan mendalam tentang Livi. Mereka mengorek lebih jauh kehidupan gadis kelahiran Malang yang tinggal di Los Angeles ini, sampai membongkar gurita bisnis sang bapak yang ternyata menjadi jalan yang menghubungkannya dengan beberapa pejabat negara.

Sebelumnya Livi dikenal sebagai sineas tanah air yang berhasil ‘menembus’ Hollywood. Kabar ini ia siarkan sendiri ke berbaga media melalui keterangan tertulis. Ia juga mengunggah video bersama Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan Wapres Jusuf Kalla, berisi endorsements untuk filmnya.

Ia mengklaim filmnya yang bertajuk “Bali: Beats of Paradise” masuk seleksi untuk Academy Awards alias Oscar, ajang film bergengsi di Hollywood, dengan kategori Best Picture. Ditambah dengan segala puja puji di media nasional, rampung sudah citra baik Livi.

Kisah manis ini pupus ketika media sadar, dan menemukan bahwa prestasinya hanya sebatas kelihaian membuat press rilis, bukan mengarahkan sebuah film. Keadaan berbalik manis jadi berduri.

Salah siapa?

Tak bisa disangkal bahwa media punya peran besar di kasus ini. Bukan hanya Livi, media-media mainstream sempat luput mengklarifikasi info serupa saat memberitakan Dwi Hartono. Mahasiswa doktoral di TU Delft, yang mengaku membuat roket TARAV7s. Ia sempt disebut-sebut sebagai the next Habibie, Presiden ketiga Indonesia yang ahli dalam manufaktur. Dalam kasus Dwi, ia akhirnya mengaku bahwa klaim-klaim yang ia buat ternyata palsu.

Mekanisme cek fakta rasanya di era jurnalistik digital ini semakin terkikis. Informasi semacam ini, apalagi ditambah mendompleng politisi atau tokoh negara, seakan jadi legitimasi atas kualitas seseorang. Ditambah belum kuatnya jurnalistik soal isu-isu di luar sektor politik, kriminal, ekonomi, dan hukum, membuat jurnalis gelagapan.

Jurnalistik film misalnya, seharusnya bisa menyaring kabar soal Livi Zheng. Cross check semacam ini sulit dilakukan oleh jurnalis politik, yang sehari-hari meliput kegiatan Wapres misalnya. Mereka memberitakan fakta pertemuan Livi Zheng dengan JK -panggilan Jusuf Kalla- yang nyatanya memang mengendorse film Livi. Namun untuk membuktikan kualitasnya filmnya tentu sang jurnalis harus menonton film itu sendiri.

Masalahnya jangankan menonton film Livi yang tak jelas asal usulnya. Menonton film kesukannya pun mungkin mereka harus memilih waktu yang tepat, di antara deadline menulis isu pemindahan ibu kota, atau desakan referendum Papua. Intinya, pekerjaan mereka memang hanya menyampaikan fakta. Beda urusannya dengan jurnalis yang menerima rilis dari Livi dan menulisnya begitu saja. Hal ini tentu saja tak bisa dibenarkan.

Sayangnya jurnalistik film di Indonesia belum begitu dewasa, karena memang jarang juga yang baca. Media memilih tak ambil pusing soal diskursus film, atau sehat tidaknya industri itu. Mereka hanya menulis informasi apa yang punya nilai berita. Padahal mereka punya peran dalam membantu ekosistem perfilman, agar terus tumbuh.

Tapi untuk menunjang jurnalistik film yang sehat, tentu harus ada peminat film, bukan hanya menikmati tapi gandrung, sampai setelah nonton pun mereka merasa masih perlu baca berita, atau kritik soal film. Ini tentu harus dimulai dari sehatnya industri film Indonesia itu sendiri, dan sineas perlu kerja keras. Menghilangkan stigma buruk, bahwa film dalam negeri cuma film kelas B. Tujuannya ya menarik minat penonton.

Nah untuk sampai ke situ, seperti kata Joko Anwar, sayangnya (kelakuan tak jujur) Livi Zheng bisa jadi kerikil untuk perfilman Indonesia. Makanya sepertinya mbak Livi harus lebih banyak kerja daripada sombong ke media.

Leave a Reply

Fikri Arigi
  Subscribe  
Notify of

Lagi Ngetrend

Lima tips jadi mahasiswa baru yang kerenable persi Balikbandung.id

Feggy Nurdiyansah

Dibaca 844 Kali

Sepakbola dalam Kedekatan Pembangunan Kota

Reva Bagja Andriana

Dibaca 208 Kali

Menjadi Fahmi, si Anak Jalanan Itu

Mutamarid Ghabi Budu

Dibaca 203 Kali

Kiat-kiat Jadi Pengendara yang Sopan Ketika Melewati Tol Cipularang

Feggy Nurdiyansah

Dibaca 196 Kali

Livi Zheng, Penulis Rilis yang Kebetulan Jadi Sutradara

Fikri Arigi

Dibaca 180 Kali

MUSIK: “Fundamental of Desire”, Parakuat (2019) | ALBUM ESSAY

Bobbie Rendra

Dibaca 167 Kali