Menjadi Fahmi, si Anak Jalanan Itu

Keysa tumbuh menjadi anak yang berbakti kepada ibunya. Namun, apakah dia sudi mencium tangan ayahnya yang merupakan eks narapidana? Apakah dia rela rapot sekolah diambil oleh sang ayah yang tubuhnya penuh tato dan berambut mohawk?

Tentu saja tidak.

Delapan tahun lalu, aku adalah orang paling bahagia di dunia –aku bisa pastikan itu. Keti –istriku—berhasil melewati maut setelah mengalami pendarahan hebat manakala melahirkan putri cantik yang aku beri nama Keysa.

Kata orang-orang, Keysa sangat mirip dengan aku ketimbang ibunya. Hidungnya tidak terlalu mancung, tapi tidak pesek-pesek amat. Tanda bahwa dia adalah individu yang sensitif dan setia. Bola matanya kecokelat-cokelatan dengan iris yang sedikit melengkung. Sudah dipastikan dia adalah individu yang teguh dengan pandangannya dan sangat kompetitif. Anak ayah banget.

Banyak yang berkata bahwa setiap anak mempunyai rezekinya. Tapi, aku tidak berpikir demikian. Aku merasa, aku harus lebih gigih agar Keysa bisa mendapatkan asupan yang bergizi. Aku pun selalu berupaya mencukupi kebutuhan Keti. Masalah keinginan dinomorduakan.

Sejak Keysa hadir, pandangan aku tentang hidup berubah. Dulu, aku berpikir kebahagiaan hanya milik segelintir orang –yang bermobil, berpendidikan, berharta, dan seterusnya dan seterusnya. Orang seperti aku, anak tukang parkir yang hidup di jalanan, tidak tahu arti bahagia. Yang aku tahu hanya satu –hidup harus terus dijalani.

Kebahagiaan bagi orang seperti aku hanya hadir dengan meneguk obat-obatan maupun minuman beralkohol. Maka, aku tidak setuju apabila orang-orang mengasihani gara-gara aku tidak sadarkan diri. Padahal, saat itu, aku adalah orang paling bahagia.

Dalam keadaan sadar, aku berpandangan bahwa kebahagiaan orang-orang mesti aku curi –tidak bisa ditawar lagi. Mereka harus membagikan kebahagiaan kepada orang-orang sepertiku. Jika mereka tidak bersedia, aku akan merampasnya.

Satu per satu gawai canggih aku kumpulkan. Televisi tipis aku himpun. Dompet berduit tebal aku rangkai. Jika sudah menumpuk, aku tukarkan dengan uang dan kebahagiaan.

Tapi, aku lupa –sebenarnya samar-samar ingat– mereka telah bersekongkol dengan pasal-pasal. Aku dituduh penjahat. Aku sempat ingin berontak, tapi, apa mau dikata, aku tidak punya kuasa dan dipaksa menginap di, kata orang-orang, hotel prodeo untuk beberapa tahun.

Aku harap pembaca tidak menyebarkan cerita ini kepada Keysa. Aku tidak mau dia menyesal telah lahir ke dunia gara-gara aku. Biarkan dia tumbuh menjadi perempuan yang bahagia.

Aku sadar bahwa aku tidak mempunyai kapabilitas dan kredibilitas untuk meningkatkan status sosial keluarga kecilku. Aku selalu merasa takut jika Keti muak dengan pekerjaanku, tidak puas dengan penghasilanku, dan malu bersuamikan seorang pengamen –yang tidak berbeda dengan pengemis.

Ketakutan itu sempat mengganggu hidupku dan menguncang mentalku. Beruntung, aku punya orang tua yang percaya bahwa hidup adalah kejutan. “Semua bisa berubah dengan cepat. Termasuk nasib,” demikian ucap ibuku dengan getir. Dari petuah itu, aku belajar bagaimana mengelola ketakutan dan seharusnya melanjutkan hidup.

Tapi, aku lupa bahwa kejutan tidak selalu berakhir indah dan menyenangkan. Saat aku pulang mengamen, Keti dan Keysa tidak ada di kos. “Aku dan Keysa di rumah mama,” pesan singkat Keti kepadaku. Mama yang dimaksud adalah ibu Keti.

Semalam, dua malam, Keti dan Keysa tidak kunjung pulang. Mereka pun tidak berkabar. Aku, yang merindukan mereka, mengunjungi rumah mama. Bukan sambutan hangat yang aku dapatkan, melainkan caci maki.

Aku tidak tahu apa salahku. Namun, aku merasakan kebencian dan kemurkaan mama. “Sana pulang, Keti dan Keysa biarkan di sini. Besok Keti akan menceraikan kamu. Aku tidak sudi anak dan cucu pertamaku hidup sulit.”

Aku tidak setuju. “Boleh aku tanya Keti. Apa dia hidup sulit denganku?” Belum sempat Keti menjawab, mama kembali melontarkan makian. “Kamu hina. Jangan sampai menular kepada Keti dan Keysa. Coba kamu berkaca.”

Jujur, aku sakit hati dan tidak kuasa menahan tangis. Sepanjang jalan aku hanya memikirkan ibu dan bertanya-tanya “Apakah ibu merasa hina?” Pertanyaan itu berkelindan. Jika iya, biarkan aku mencium telapak kakinya dan memeluknya dengan erat –seerat-eratnya. Kemudian, melenyapkan diri untuk selama-lama-lama-lamanya dari kehidupan ibu.

Setelah menimbang iya dan tidak, aku menemukan jawabannya. IYA. Aku percepat perjalananku ke rumah ibu. Aku peluk erat ibu, cium kaki ibu, dan kemudian aku melenyapkan diri. Lenyap untuk selama-lamanya, meski hidup tetap harus aku arungi.

“Maaf, Bu. Biarkan aku mengarungi hidup tanpa ibu. Dan silakan ibu melanjutkan hidup tanpa aku. Lupakan bahwa ibu telah….” Sejak itu, aku lupa apa yang terjadi. Yang aku tahu ibu hanya menangis.

Sejak itu pula, aku memandang hidup dengan sinis, kecuali kepada Keysa. Namun, apakah dia sudi mencium tangan ayahnya yang merupakan eks narapidana? Apakah dia rela rapot sekolah diambil oleh sang ayah yang tubuhnya penuh tato dan berambut mohawk?

Tentu saja tidak.

Leave a Reply

Mutamarid Ghabi Budu
  Subscribe  
Notify of

Lagi Ngetrend

Lima tips jadi mahasiswa baru yang kerenable persi Balikbandung.id

Feggy Nurdiyansah

Dibaca 844 Kali

Sepakbola dalam Kedekatan Pembangunan Kota

Reva Bagja Andriana

Dibaca 208 Kali

Menjadi Fahmi, si Anak Jalanan Itu

Mutamarid Ghabi Budu

Dibaca 203 Kali

Kiat-kiat Jadi Pengendara yang Sopan Ketika Melewati Tol Cipularang

Feggy Nurdiyansah

Dibaca 195 Kali

Livi Zheng, Penulis Rilis yang Kebetulan Jadi Sutradara

Fikri Arigi

Dibaca 179 Kali

MUSIK: “Fundamental of Desire”, Parakuat (2019) | ALBUM ESSAY

Bobbie Rendra

Dibaca 166 Kali