Petikan Wawancara Terbatas dengan Mark Manson yang Gagal Paham

  • Carita
  • Rabu, 16 Oktober 2019

Mark Manson, penulis kondang asal Paman Sam itu, menjadi megabintang. Berkat buku berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat, ia dibanjiri puja-puji. Semua ucapan dan tulisannya sudah seperti titah, terutama bagi orang-orang yang berumur 30 tahun.

Narasi dalam buku yang penuh moral karya Manson itu bertautan dengan kebahagiaan dan kesuksesan. Narasi-narasi yang memang dibutuhkan orang-orang berkepala tiga –yang berada di persimpangan jalan: menjadi perwira atau pecundang.

Usia 30 memang rentan dijangkiti wabah keputusasaan. Apalagi, era industri 4.0, yang diagung-agungkan pemerintah, mendesak orang-orang berlari kencang dengan langkah lebar dalam tempo sesingkat-singkatnya mengapai kesuksesan. Fak!!!

Teknologi yang berkembang pesat, katanya, memungkinkan siapa saja untuk mengejar tujuan besar dan menciptakan mahakarya tanpa perlu mematangkan diri.

Sialnya, naratif-naratif itu dipegang teguh dan jadi panduan hidup. Meski pada akhirnya, kita hanya berhadapan dengan ketakutan dan kegagalan.

Penyesalan pun bak bom waktu yang siap meledak kapan dan di mana saja. Tentunya saat kita sadar bahwa hidup tak seindah menemukan makanan cepat saji di tumpukan sampah.

Lewat bukunya, Manson berupaya membuat orang-orang usia 30 –atau siapapun itu– untuk lebih relaks. Kendati kita pecundang saat berumur 35 tahun, mungkin saja mekar di usia 50 tahun, seperti Charles Burowski. Tulisan Manson sejatinya dapat jadi pledoi terampuh –setidaknya supaya terhindar dari caci maki.

Pertanyaan soal isi otak Manson berseliweran di mana-mana. Tapi, hanya satu yang jadi atensi saya –Mengapa Manson berupaya mendestruksi naratif kesuksesan manusia se-Jagat Raya?

Sulit dijawab, bukan?

Tapi, tenang, kemarin Manson berkunjung ke mimpi Feggy Nurdiyansah. Dan saya tidak lupa menitip sejumlah pertanyaan bodoh –karena pintar tak punya. Berikut petikan wawancaranya.

Kang, saya tidak mau bertele-tele. Tapi, sebelumnya, saya ingin berterimakasih.

Untuk apa? Toh, ay (Red: dibaca I atau saya) belum jawab apa-apa.

Untuk basa-basi, kang.

Tai.

Oke, kita mulai. Jadi, apa itu seni bodo amat?

Pertanyaan kaku dan basi. Nampaknya, otak sepertimu mudah ditemukan di Pasar Baru, wak.

@&&#(&@@&@(

Ay ingin meluruskan. Bodo amat itu bukan acuh atau tidak peduli terhadap segala hal. Maksud dari bodo amat itu sebuah sikap untuk memilih prioritas dalam menjalani hidup. Karena gini –jika seseorang memedulikan segala hal dalam hidupnya, kebahagiaan perlahan menjauh dan lambat laut lenyap.

Hah?

The more you know.

Tak usah berbual-bual deh.

Calm, lurd. You tahu ‘kan ada negara yang berhasil membunuh lembaga anti-rasuah?

Yes I Know.

Sebelum mereka berhasil membunuh lewat undang-undang di balik batu, sang presiden berada di persimpangan jalan –berpihak pada rakyat atau parlemen? Kelihatan sekali, dia tidak punya prioritas dalam hidupnya.
Untuk menunda matinya lembaga anti-tikus berdasi, sang presiden punya privilese menerbitkan Perppu. Rakya sempat jadi prioritas. Itu terlihat dari pertemuan dengan sejumlah akademisi, ahli hukum, dan tokoh.

Kata kumparan, semua yang hadir menyarankan agar Perppu dikeluarkan. Sang presiden langsung pikir-pikir. Draft Perppu pun sudah ada di atas meja. Tugasnya hanya satu: Menandatangani. Angin segar buat rakyat.

Tapi, besoknya dia bertemu orang-orang terhormat di parlemen. You know deh mereka ngomongin apa. Intinya, sih, ada ‘ancaman’ bernada politis. B*ngs*t kan? Maaf-maaf aja, nih, rakyat bukan prioritas –hanya jadi ban serep. Selama kursi tidak digoyang-goyang parlemen, ya, duduk santai aeeee.

Ini rakyat loh yang gertak!

I Know. But, kamu kudu legowo. Prioritas sudah ditentukan. Ya, terimo lah. Sang presiden jelas, toh, hidupnya mau landai. Endak apa-apa lah ditekan rakyat. Toh, wakil mereka di dewan dukung sang presiden. Sebuah keputusan yang jitu. Tidak seperti Simon McMenemy yang buat Timnas keok mulu.

Oh iya, satu lagi, you tidak boleh lupa bahwa dalam memilih priortitas selalu ada pembenaran.

Maksudmu bacot demi kebenaran?

Hahaha. Ya begitulah. Pembenaran rasa mitos.

Seperti mantan drummer The Beatles, Pete Best, yang gagal bersinar lalu membela diri bahwa hidup dia bahagia dibanding John Lennon?

Begitu lah.

Lalu, menurutmu, apa pembenaran sang presiden?

Ay tidak bisa jawab. Tapi, ay pribadi berharap lembagi anti-anti korupsi klub ditiadakan. Sesuai dengan keputusan si presiden

Maksud loe?

Lembaga anti-anti klub itu kan rajin OTT kepala daerah. Apa yang mereka lakuin itu buat anggaran untuk bunga karangan “Selamat atas Dilantiknya Bupati XYZ” membengkak.

Contoh, Bupati ditangkap. Terus Gubernur mau enggak mau harus melantik Bupati berstatus Plh. Plt. Pj. dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya. Di setiap pelantikan, semua instansi kan kudu ngasih ucapan selamat. Wajib. Tidak bisa tidak. Walau mereka tahu, besok Bupati pengganti bakal ditangkap karena suap.

Jadi, kebayang kan berapa duit rakyat yang tergerus hanya untuk karangan bunga. Ambil saja satu karangan bunga 10 juta. Terus pelantikan Bupati gara-gara OTT bisa sampai lima kali. Berarti satu instansi ngeluarin duit 50 juta. Coba kalikan ada berapa instansi yang ngasih karangan bunga. Dinas itu, Dinas ini, Dinas sana, Dinas sono..

Sebenarnya sumber koruptor itu kan lembaga anti korupso. Contoh lagi, Setnov tidak akan jadi tersangka kasus korupsi e-KTP –yang buat warga berang ke Disdukcapil— kalau tidak ada yang menetapkan. Walau akhirnya benar, tapi kan yang mulai si lembaga itu. Nazarudin juga… Penyanyi hip-hip juga… Kalau lembaga anti rasuah hilang, Tanah yang diciptakan Tuhan saat sedang tersenyum pun tidak akan mendapat label terkorup.

Logiknya begitu, kan? Terus kenapa kalian repot-repot?

No…….

Noted: Maaf wawancara selesai sampai situ. Berdasarkan laporan, Feggy bangun jam 03:00WIB karena ingin pipis. Sialnya, pertanyaan titipan saya soal –mengapa Manson berupaya mendestruksi narasi kesuksesan manusia se-Jagat Raya pun tidak terjawab. Tapi, ya, begitu lah hidup, yang direncanakan dengan matang belum tentu terealisasi. Doakan saja, semoga kami punya waktu luang dan uang untuk mewawancarai Manson di Amerika.*

Leave a Reply

Mutamarid Ghabi Budu
  Subscribe  
Notify of

Lagi Ngetrend

Lima tips jadi mahasiswa baru yang kerenable persi Balikbandung.id

Feggy Nurdiyansah

Dibaca 843 Kali

Sepakbola dalam Kedekatan Pembangunan Kota

Reva Bagja Andriana

Dibaca 207 Kali

Menjadi Fahmi, si Anak Jalanan Itu

Mutamarid Ghabi Budu

Dibaca 202 Kali

Kiat-kiat Jadi Pengendara yang Sopan Ketika Melewati Tol Cipularang

Feggy Nurdiyansah

Dibaca 195 Kali

Livi Zheng, Penulis Rilis yang Kebetulan Jadi Sutradara

Fikri Arigi

Dibaca 179 Kali

MUSIK: “Fundamental of Desire”, Parakuat (2019) | ALBUM ESSAY

Bobbie Rendra

Dibaca 166 Kali