MUSIK: “Fundamental of Desire”, Parakuat (2019) | ALBUM ESSAY

Anak jurusan kimia pasti tak asing lagi dengan istilah ‘sistem tabel periodik’. Tapi, pernahkah terbayang, jika terjadi ‘manipulasi’ elemen di dalamnya? Ada ‘senyawa’ baru masuk; yang tak hanya berunsur musikal, namun juga bersifat sosio-kultural? Bisa jadi, ‘racun’ dansa-elektronik bernama PARAKUAT adalah hasilnya. Penasaran? Saya pun begitu. Maka dari itulah tulisan ini muncul.

**

 

PROLOG: SEKILAS SOAL ERI RM
Setelah menyimak 9 lagu Parakuat dalam debut album “FUNDAMENTAL OF DESIRE” (rilis 19 April 2019), ternyata passion seorang Eri RM tetap kokoh dalam mendirikan karya-karya yang eksploratif – meski proyek musik techno ini batal berformat duo. Tadinya, proyek ini akan berduet dengan Vicky Mono. Namun vokalis strong-character satu ini harus membagi prioritas dengan padatnya pengerjaan album terbaru Burgerkill.

Akhirnya, Eri RM menjalani Parakuat sendirian. Meski dalam format solo, Eri RM terbilang multi-tasking; bahkan multi instrumentalist. Ia bernyanyi, menulis lirik, bermain gitar, menjadi engineer, bahkan jadi produser albumnya juga. Di telinga anak muda, saat ini nama Eri RM sendiri terbilang belum setenar para kolega lain dalam albumnya – meski pengalaman semasa karirnya sudah ‘matang’ sebagai ‘arsitek’ dapur rekaman. Adanya experience points sebagai penata musik dan penata suara selama bertahun-tahun, menjadikan kelahiran album ini ibarat ledakan ‘bom waktu’ yang lama dinanti-nanti, khususnya dalam lingkup sepermainan Eri RM dan kawan-kawan musisi.

(untuk dengar cuplikan album mereka, langsung tekan tombol ‘play’ di bawah sini)

View this post on Instagram

(OUTNOW) @parakuat r͏e͏l͏e͏a͏s͏e͏ d͏e͏b͏u͏t͏ a͏l͏b͏u͏m͏, s͏o͏l͏o͏ c͏o͏n͏c͏e͏p͏t͏ c͏o͏l͏l͏a͏b͏o͏r͏a͏t͏e͏ m͏u͏s͏i͏c͏i͏a͏n͏ d͏i͏v͏e͏r͏s͏e͏ g͏e͏n͏r͏e͏s͏. t͏h͏i͏s͏ e͏n͏e͏r͏g͏y͏ a͏c͏c͏o͏m͏p͏a͏n͏i͏e͏d͏ f͏r͏o͏m͏ p͏a͏r͏a͏k͏u͏a͏t͏ a͏s͏p͏e͏c͏t͏, w͏i͏t͏h͏ a͏l͏l͏ d͏u͏e͏ r͏e͏s͏p͏e͏c͏t͏ a͏n͏d͏ t͏h͏a͏n͏k͏s͏ f͏o͏r͏ m͏u͏s͏i͏c͏i͏a͏n͏s͏ w͏h͏o͏ h͏a͏v͏e͏ c͏o͏n͏t͏r͏i͏b͏u͏t͏e͏d͏. m͏o͏r͏e͏ d͏e͏t͏a͏i͏l͏s͏, w͏w͏w͏.p͏a͏r͏a͏k͏u͏a͏t͏.c͏o͏m͏. */v͏-a͏r͏t͏w͏o͏r͏k͏ @sworks.idn . #Pa͏r͏a͏k͏u͏a͏t͏ #Fu͏n͏d͏a͏m͏e͏n͏t͏a͏l͏Of͏De͏s͏i͏r͏e͏ #ParakuatUnk͏l͏347 #ParakuatDe͏m͏a͏j͏o͏r͏s͏ #Ne͏w͏Al͏b͏u͏m͏

A post shared by ᴘᴀʀᴀᴋᴜᴀᴛ (@parakuat) on

Lewat statemen rilisan persnya, Eri ingin mengakomodir selera musik masyarakat pop-culture, agar ke-‘serbaragam’-an musik bisa jadi opsi menarik, ketimbang selalu ‘seragam’. Meninjau dari sini, rasanya beliau akan berhasil meraih pencapaian tersebut – dengan dukungan exposure yang tepat, tentunya. Tapi sebelumnya, saya sepakat menjuluki album ini: “The 2019’s Most-Collaborative Indonesian Indie Album” – yang jika disingkat jadi ‘MCIIA19’ pun, ternyata tidak membuatnya terasa singkat. Hmm, proses kreatif memang tidak perlu disingkat. Biarlah untuk sejenak, ‘MCIIA19’ ini jadi elemen baru dalam tabel periodik permusikan Indonesia (hehe).

**

 

KOLABORASI: ‘SERAGAM’ BARU BAGI KE-‘SERBARAGAM’-AN

Sederet musikus lintas attitudes Eri gandeng sekaligus, guna memperkuat ‘klub’ barunya ini – dalam rangka terjun ke suatu ‘liga tanpa klasemen’ bernama music-scene. Namanya juga tanpa klasemen, wajar bila konsep featured-artists-club jadi ‘horizontal-powers’ yang solutif bagi langkah awal Parakuat.

Vokalis ‘horor’ dari band metal DEADSQUAD, Damag, ia ajak bermodulasi bersama di lagu pertama, “ION (Modular Version)”. Eri juga ber-‘campur tangan’ dengan Ari Firman (bassist THE GROOVE) dan Diat (gitaris YOVIE NUNO) dalam versi penuhnya lagu “ION”.

 

Di lagu kedua berjudul “BLACK MOTORCYCLES”, format Parakuat justru tampak seperti unit super-group jazirah sub-urban, dengan menggaet Eky (vokalis ROCK N ROLL MAFIA), Grahadea (keyboardist HOMOGENIC), dan Helvi (gitaris TEENAGE DEATH STAR).

 

Kemudian ada Angkuy, seorang ‘ahli bedah’ sirkuit toys-music milik BOTTLESMOKER, yang Eri jadikan kolega pada tembang “MEMORIES COME AND GO”.

 

Kesan super-group kembali timbul dalam nomor berjudul “CASH”, di mana ada Suar Nasution (solois; eks vokalis PURE SATURDAY), Bueno (bassist ROCK N ROLL MAFIA), serta E-One Cronik (DJ/turntable EYE FEEL SIX) di dalam starting line-up.

 

Pada nomor lagu ke-7, Parakuat beriringan dengan Petra Sihombing (penyanyi), Ramdan (bassist BURGERKILL), dan Marcel Siahaan (penyanyi plus drummer KONSPIRASI – juga eks drummer PUPPEN), untuk me-remake hits milik Rock N Roll Mafia, “INTOXICATED”.

 

Seakan masih kurang heterogen, giliran Thomas Ramdhan (bassist GIGI) yang Eri jajarkan dengan vokalis BURGERKILL, Vicky Mono, dalam “ART EXHIBITION”.

 

Tak cukup sampai situ, Eri duduk satu mixer dengan sentuhan Andre Vinsensius (gitaris JERUJI), Kimun666 (seniman plus sejarawan musik), dan seorang musisi Swedia, Karra, dalam menggarap “KEEP IT GOING (Instrumental)”.

View this post on Instagram

Ideas appear, Parakuat has the ambition to make instrumental, trying to integrate #Karinding Instrument. This last song, metaphorically invites @kimun666 /JonPasisian/, he is quite sensitive to this Instrument. Proficient at playing the instrument as well as the culture he immersed. . Second, parakuat instigated @andre_vinsens /Jeruji/, who at that time met face-to-face at #Maternal, parakuat filed collaborations on guitar department. Because in part, it requires important elements that are still silent. . Third, parakuat overshadows, how this #Instrumental element, seasoned with Eve Vocal nuances, including by Swedish Teams, gives an idea input to this particle. . In conclusion they helped cultivate the last song. #Karra, is a talented young female musician from Swedish, donating her voice without the knowledge of parakuat. Thanks to swedish & collaborator teamwork, who had given an artistic enlightenment to this Album. . #Parakuat #FundamentalOfDesire #ParakuatDemajors #ParakuatUnkl347 #ParakuatHoborec #NewAlbum

A post shared by ᴘᴀʀᴀᴋᴜᴀᴛ (@parakuat) on

 

Eri sendiri menunjukkan kebolehan musikalitasnya lewat tembang nomor 3, “SURVIVAL ROCK” – yang seakan menyimbolkan, bahwa musikalitas Parakuat bisa tetap ‘survive’, dengan atau tanpa kehadiran featuring-artists.

Intinya, akan banyak hal menarik untuk dikaji lebih mendalam.

**

 

ARTWORKS: ‘VISUAL AMPLIFIER’ BAGI ‘AUDIO-SECTOR’ PARAKUAT

Sebelum membahas ke wilayah audioworks, satu sektor menarik dari kemasan album ini, tak lain adalah artworks. Sang penanggung jawab album artwork, Setia Adhi Kurniawan, sekali lagi menunjukkan kelasnya sebagai seorang komposer visual multi-genre. Buah tangannya kali ini sukses membawa album Parakuat tak hanya punya standar audio semata, namun juga punya standar visual – yang sama-sama catchy dengan denyut musik Parakuat itu sendiri. Lewat tangan dinginnya, pemuda Bandung penyuka simbol lonewolf ini, menghabiskan waktu selama 3 bulan untuk riset, kontemplasi, hingga pengerjaan artworks itu sendiri.

Harmonisasi audio-visual antara Eri RM dan Sworks, seolah menyimbolkan filosofi dari makna kata ‘PARAKUAT’. Sebagai informasi, diksi ‘PARAKUAT’ berasal dari nama suatu senyawa: ‘paraquat’ – sejenis bahan aktif kimia untuk melumpuhkan aktivitas herbisida dan pestisida yang ’over-dosis’ dalam sebuah lahan tani (ketika efeknya malah membunuh tanaman lain yang ‘tak berdosa’). Dalam kamus biokimia, paraquat bertugas sebagai bahan kimia ‘baik’, untuk melawan bahan kimia ‘jahat’. Ini senada dengan frasa ‘vaksin versus toksin’, atau bahkan ‘fire the fire with fire’ (frasa literasi Barat populer) – artinya: ‘membakar kebakaran dengan api’. Maksudnya, jika konsep musikal Eri RM ibarat cairan biohazard yang mudah meledak, maka konsep visual Sworks ibarat dynamite-detector yang semakin mengoptimalkan daya ledaknya. Dengan kata lain, kekuatan karakter pada artworks, seakan jadi amplifier bagi energi eksplosif milik musik Parakuat.

Adhi tampak paham betul mood-board yang harus ia pilih. Dengan jenis pewarnaan dark- fluorescent, karya-karyanya jadi objek-objek ‘ilusi’ yang cukup surrealistic, namun tetap punya momentum fotografis. Adhi mengesankan dunia steampunk yang manipulatif, psycho-industrial yang gloomy, juga aksen inking a la zombie yang tangguh. Bahkan, jika setiap ilustrasinya kita telisik kembali, ruang kontemplasi dan imajinasi lain akan semakin terbuka – lewat mata siapa saja; tak hanya bagi mata kaum artsy. Ya. Musiknya ear-catchy, artworks-nya eye-catchy. Ya. Ternyata serasi tak hanya milik Endah N Rhessa atau Anang-Ashanty.

**

 

TAK HANYA ‘HEAR-ABLE MUSIC’, NAMUN JUGA ‘LOOK-ABLE ALBUM’

Adhi berbekal suatu konsep visual yang tertuang menjadi 9 rilisan ilustrasi full-color. Layaknya syair pada lagu; 9 lembar ‘surat’ non-verbal ini punya semiotika tersendiri terhadap 9 pesan lagu Parakuat. Cukup dimensional, karena baik produksi musik maupun artwork-nya, sama-sama bermetode ‘analog’. Dari segi proses kreatif, tiap garis, arsir, hingga lay-out design dalam rilisan ini, ibarat bagan aransemen lagu, tempatnya para lirik bernaung. Sedangkan logo Parakuat sendiri, ada di posisi layaknya sesosok vokalis – frontman yang jadi wajah awal bagi suatu identitas grup. Maka, tak berlebihan rasanya, bila karya Setia Adhi Kurniawan di sini, berperan sebagai ‘instrumen-visual’ bagi Parakuat; hal yang senada dengan karakteristik Parakuat itu sendiri, sebagai salah satu crossover-combinator di ranah musik indie.

(silahkan klik tombol ‘play’ di bawah ini, untuk melihat teaser dari kesembilan artworks)

Ilustrasi pada “ION” menyerupai gumpalan tubuh-tubuh manusia yang membentuk butiran partikel atom – imajinasi saya langsung meluncur pada adegan fractals di film Doctor Strange. Lahir suatu kontemplasi, yang bicara soal alam kuantum. Tempat arti terbaik si musik mengkristal, di alam bawah sadar manusia – yang hebatnya, bisa Sworks ilustrasikan ke dalam bentuk visual-art yang verbal. He brought us consciousness from an alternate-reality.

Pada “BLACK MOTORCYCLES”, terlihat sosok empat creatures jantan mengendarai sepeda motor di tengah ‘cagar alam’ – yang tebakan saya, sepertinya itu taman nasional milik gerbang neraka. Nah, sekelompok bégal sudah menunggu mereka, sambil menggenggam kunci Inggris. Wait, apa jangan-jangan justru itu teman satu gangster-nya?!

Dalam “SURVIVAL ROCK”, sesosok pria flamboyan tampak mengenakan setelan jas dan dasi, pasrah menunggu ajal terindahnya, bersama gitar elektrik terakhirnya. Dugaan saya (lagi), ini berlokasi di atas selaput gendang telinga; yang bentuknya mulai lelah dan berkerut, sehingga menyerupai kawah berukuran kecil – yang sebagai ujian survive; mungkin ukuran kawah itu akan terus mengecil. Semacam efek claustrophobia.

Lanjut ke “MEMORIES COME AND GO”, terlihat pria dan wanita sedang menikmati sunset di Bali dalam suatu rekreasi penuh karat. Sepasang turis ini tampak sudah siap, bila saat sunset pergi, giliran sosok Rahwana yang muncul dari balik pura. Namun bagi mereka, Bali tetaplah Bali, karena manisnya kenangan sifatnya abadi.

Saat berhadapan dengan artwork “CASH”, terlihat sosok pria berjas sedang menggunakan kepala antiknya – terbuat dari kaset pita – untuk berpikir keras. Entah, apa yang ia pikirkan. Di belakangnya, ada brangkas berisi bangkai televisi di bawah setumpuk uang kertas berukuran besar. Sialnya, pria ini tidak juga sadar, bahwa dia sedang dikelilingi serat-serat otak. Jangan-jangan, ia sedang dalam otaknya sendiri. Wajar, bila pikiran kerasnya menjadi sia-sia. Welcome to mindtrap.

Artwork milik “INTOXICATED (REMIX)” membuat saya ‘sadar-pola’, bahwa objek tengkorak, tulang rusuk, dan x-ray jantung ternyata bisa membentuk axis-pattern ‘mandala’ (sejenis visual-theraphy yang biasa dipakai penganut Hindu atau pelaku meditasi yoga). Kontemplasi yang se-brilian eksekusinya, Sworks. Oke, karena sudah saya puji, nomor sepatu saya 45 ya, Sworks. Catat.

Nuansa sarkas terasa pada artwork “ART EXHIBITION”. Tampak sebuah ruang galeri diisi sebidang besar lukisan abstrak. Di depannya, berkumpul para ‘makhluk’ dengan wujud yang sama absurd-nya. Hal ini seakan jadi penanda, bahwa pada level tertentu, jangan-jangan karya seni yang abstrak hanya bisa dicerna oleh pemikiran manusia yang harus sama ‘abstrak’-nya juga. So then, is irony an art?

Terakhir, ilustrasi “KEEP IT GOING (INSTRUMENTAL)” seolah ingin menyimbolkan, bahwa jika butiran minuman soda diperbesar hingga seukuran Bumi, maka kira-kira seperti inilah penampakan ‘Gua Hiro’-nya.

**

 

AUDIOWORKS OVERVIEW: WELCOME TO MUSICAL ‘PALLETTE’!

Okay. Akhirnya kita masuk ke sektor musikal. Dari segi beat, ada dentuman lo-fi khas musik techno yang bold. Terasa urban dan tetap kental rasa elektrikal. Hentakannya mengandung retro-soul ala 90’s – mengingat Eri RM sendiri mengawali karir musiknya sejak 1999 silam. Bahkan, beberapa lagu masih identik dengan nuansa psytrance-disco dari akhir dekade 80-an.

Pujian khusus saya persembahkan untuk sektor sound-engineering. Tahap mastering album “FUNDAMENTAL OF DESIRE” ini dilakukan di HoboRec Studio, Swedia – Eropa Utara, tepatnya di Kota Malmö – tempat Zlatan Ibrahimovic mengawali karir sepakbolanya (ya terus?). Dari mulai cara ‘masak suara’ saja, experience seorang Eri RM dalam audio-mixing sudah dipertemukan dengan fasilitas dan perangkat mastering kelas internasional. Pantas saja, gain-level di setiap lagunya bisa mencapai artikulasi yang tebal dan sempurna, pun frekuensi di setiap tekstur musiknya yang punya clarity luar biasa. Benar-benar pilihan tepat, untuk membawa image musik semacam ini ke dalam ‘kasta’ yang tak hanya sophisticated, namun juga top notch.

Pujian berikutnya hadir dari mulut seorang Ulf Blomberg, mastering-engineer Parakuat dari HoboRec Studio – pria Swedia yang jadi ‘juru masak’ pada tahap finishing album. Menurutnya, musikalitas Eri RM lewat Parakuat, telah memberinya kebahagiaan dan pengalaman baru selaku audio-engineer. Eri RM dinilai punya intuisi menarik dan bakat berbeda, sehingga Eri mampu mencetuskan ide komposisi; yang bahkan belum tentu bisa terbayangkan oleh musisi Eropa (yang oleh masyarakat Asia dikenal cutting-edge). Sebagai profesional di bidang rekaman, Ulf Blomberg biasanya menaruh perhatian khusus pada aneka suara drum dan gitar. Namun dalam proyek “FUNDAMENTAL OF DESIRE”, ‘tendangan demi tendangan’ justru tidak terlahir dari kedua instrumen itu – namun terwakili dari aneka instrumen techno, seperti modular-synth dan analog squencer.

Sekedar informasi, kini HoboRec Studio telah berafiliasi dengan 16 label rekaman internasional, dan berjejaring dengan lebih dari 160 band/musisi mancanegara. Jangan tanya saya soal tarifnya, karena jujur, saya tidak tahu. Semoga saja, lembaran kwitansi di meja Kang Eri tak perlu setebal milik mahasiswa S2 di ITB.

Semakin jelas, bahwa produksi menggunakan software Fruity Loops, tak akan menghasilan dance-able music-class yang sematang dan sebertenaga ini. Saya sepakat, Daftpunk hates that software, namun entah dengan para disc-jockey era millenial; yang hari ini sedang dapat giliran terkenal (daaannn… sempat-sempatnya saya nyinyir di sini, hehe). Idealitas proses kreatif Parakuat, sepertinya ada di ‘mahzab’ yang berseberangan dengan para DJ zaman now itu (nyinyir lagi, kan?! Hehe). Eri RM lebih mengajak kita bernostalgia dengan vibes yang selama ini dianggap terlalu lama menghilang di peredaran musik (khususnya Indonesia), khususnya seputar new-wave, tech-house, atau genre drum n bass.

**

 

EPILOG: THIS IS PARAKUAT’S FIRST SIGNATURE!

Dance-grooves pada semua lagu Parakuat terbilang repetitif, minimalis, dan statis. Mungkin memang inilah cara seorang Eri RM menjaga signature awal Parakuat dalam musik techno – bisa jadi ini dalam rangka mempermudah telinga ‘umum’ untuk mencerna musiknya juga. Terlebih Bandung sendiri sudah punya Homogenic, Rock N Roll Mafia, dan Bottlesmoker – trio yang sudah punya karakteristik musik masing-masing. Sehingga launching-nya Parakuat ini, justru melengkapi jajaran “Fantastic Four”-nya musik techno di Bandung (biarlah saya namai demikian). Kesederhanaan beat-patterns milik Parakuat justru membuka ruang eksplorasi yang luas. Jadi semacam trigger empuk bagi musikalitas dari para featuring-artists di album “FUNDAMENTAL OF DESIRE”; di mana masing-masingnya sudah punya ‘kemewahan’ dan signature identik tersendiri.

Saya tidak akan heran, bila suatu hari nanti, lagu Parakuat berhasil jadi theme-song atau soundtrack konten-konten olahraga ekstrim, video-game Tony Hawk’s Pro Skater, atau bahkan Pro Evolution Soccer edisi mendatang. Tanpa mengurangi rasa hormat, jika Parakuat menjadi soundtrack film The Lion King, ini justru sangat mengherankan saya (hehe).

Kalaupun pansos alias panjat sosial memang lumrah dilakukan di hari ini, maka ‘tiket pansos’ paling keren di saat ini, ialah sikap untuk tetap berorientasi pada kualitas karya itu sendiri – sehingga dalam konteks ini, electro-pop, psytrance, dan musik sejenisnya tak lagi dipandang sebelah mata; terlebih atas ‘kasta’-nya dalam kultur musik domestik yang disebut sidestream.

 

 

****

 

 

(muatan guyon yang terkandung dalam tulisan ini disebabkan penulis terlalu menyukai dialog ‘para-idiot’ dalam film “Guardian of the Galaxy”)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Bobbie Rendra
  Subscribe  
Notify of

Lagi Ngetrend

Lima tips jadi mahasiswa baru yang kerenable persi Balikbandung.id

Feggy Nurdiyansah

Dibaca 844 Kali

Sepakbola dalam Kedekatan Pembangunan Kota

Reva Bagja Andriana

Dibaca 208 Kali

Menjadi Fahmi, si Anak Jalanan Itu

Mutamarid Ghabi Budu

Dibaca 203 Kali

Kiat-kiat Jadi Pengendara yang Sopan Ketika Melewati Tol Cipularang

Feggy Nurdiyansah

Dibaca 196 Kali

Livi Zheng, Penulis Rilis yang Kebetulan Jadi Sutradara

Fikri Arigi

Dibaca 179 Kali

MUSIK: “Fundamental of Desire”, Parakuat (2019) | ALBUM ESSAY

Bobbie Rendra

Dibaca 167 Kali