Sepakbola dalam Kedekatan Pembangunan Kota

  • Sepor
  • Sabtu, 14 September 2019

Beberapa waktu belakangan ini, pusat pemberitaan tertuju pada rencana perpindahan Ibu Kota Negara Indonesia. Jakarta (nampaknya) akan kehilangan status sebagai Daerah Khusus Ibu Kota jika peralihan tersebut benar-benar terjadi.

Rencananya, provinsi Kalimantan Timur dipilih sebagai wilayah untuk pembangunan Ibu Kota. Wilayah administratif antara Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara yang berada di provinsi tersebut akan menjadi pusat pemerintahan yang baru.

Berbagai polemik muncul terkait dengan wacana tersebut. Mulai dari isu politik hingga ekonomi. Keraguan pun mencuat. Ibu kota baru ini diragukan oleh berbagai pihak,karena dinilai belum siap untuk menjadi pusat segala macam aktivitas bagi negara untuk merumuskan berbagai kebijakan. Namun, dari berbagai topik yang muncul terkait pembangunan ibu kota baru, ada kepingan yang terlewat.

Jika kita menilik lebih lanjut terkait perpindahan tersebut, pembangunan secara fisik berupa infrastruktur maupun institusi olahraga—dalam hal ini sepakbola—setidaknya memiliki pengaruh tersendiri terhadap pembangunan kota.

Ada semacam hubungan koheren antara sepakbola dengan sebuah kota, baik klub yang berada pada wilayah tersebut ataupun ‘sepakbola’ secara keseluruhan. Sepakbola dan sebuah kota selalu beriringan dan saling bergantung satu sama lain.

Semenjak Bucharest—yang merupakan Ibu Kota Rumania—masih dikuasai oleh kediktatoran Nicola Ceausescu, sejarah mencatatat bahwa sebuah kota berhubungan sangat erat dengan klub sepakbola. Steaua Bucharest merepresentasikan klub dari Ibu Kota, mendapatkan segala kemajuan dan kemudahan dari status tersebut.

Valentin Ceausescu, anak dari Nicola yang juga pernah menjabat sebagai Presiden Klub Steaua Bucharest, mendapatkan keuntungan cuma-cuma ketika kota Bucharest memiliki sumber daya serta kemajuan perekonomian.

Lantas, dengan keuntungan sebagai ibu kota? Keduanya saling diuntungkan. Bucharest menjadi maju sebagai kota, dan Steaua mampu setidaknya membayar para pemain mereka dengan jumlah cukup besar pada masa itu.

“Kami tidak membicarakan jumlah yang sangat besar, kami juga tidak menghasilkan uang yang banyak tapi kami sangat menikmati hidup di atas rata-rata”, ucap Ion Parcalab, mantan pemain Dynamo Bucharest menanggapi kemampuan finansial yang besar dari klub yang berada di Bucharest, dikutip dari Peace-Sport.

dailymail.co.uk

SEPAKBOLA DAN PEMBANGUNAN KOTA

Jika sebuah kota memiliki hubungan yang erat dengan klub sepakbola yang berada pada kota tersebut, jika di balik, dapatkah sepakbola membantu pembangunan sebuah kota?

Secara teoritis, sebetulnya olahraga yang cakupannya luas memiliki kemampuan untuk membangun perekonomian sebuah wilayah. Sebut saja klub sepakbola yang bercokol di wilayah tertentu, dapat menarik investasi secara langsung maupun tidak langsung.

Menurut Vlad Rosca (2010), klub sepakbola mampu mendapatkan investasi secara langsung berupa kucuran dana yang menggerakan roda perekonomian dari kota di mana klub itu berada. Tentunya dengan pemasukan tersebut, kota mendapatkan keuntungan berupa pajak dari sektor privat, dalam kasus ini merupakan klub sepakbola.

Bahkan secara tidak langsung, investasi dapat datang dalam bentuk infrastruktur fisik dalam pembangunan kota. Salah satunya pembangunan moda transportasi untuk menjangkau perhelatan kejuaraan sepakbola.

Piala Dunia 2010 yang digelar di Afrika Selatan menjadi salah satu simbiosis mutualisme antara sepakbola dengan kota dan wilayah melalui infrastruktur. Pembangunan infrastruktur untuk 9 (sembilan) kota yang dijadikan tuan rumah memberikan dampak ekonomi yang baik.

Menurut laporan dari Pemerintah Afrika Selatan melalui Department of Sport and Recreation, sebesar 11,72 Miliar Rand diinvestasikan untuk pembangunan transportasi masal. Salah satu transportasi yang sampai saat ini beroperasi untuk menyediakan layanan transportasi bagi masyarakat di Afrika Selatan adalah The Rea Vaya.

Layanan yang mirip dengan busway di Jakarta tersebut merupakan yang pertama di Afrika Selatan dan mampu menghubungkan Johannesburg dengan Kota Sewota yang memili jarak layanan 59 km.

Infrastruktur berupa sistem transportasi tersebut tentunya memiliki dua sisi pemanfaatan. Kota mendapatkan keuntungan dengan peningkatan aksesibilitas bagi warganya untuk dapat melakukan aktivitas, terutama yang bersangkutan dengan perekonomian. Afrika Selatan yang masih tergolong negara berkembang secara infrastruktur kota dapat terbantu dengan gelaran 4 tahun sekali itu.

Di sisi lain, pemanfaatan dari transportasi yang dibangun juga memberikan akses yang mudah bagi masyarakat untuk dapat menyaksikan gelaran sepakbola langsung di dalam stadion. Kota (dalam hal ini Pemerintah) mendapatkan keuntungan berupa akses serta pemasukan dari layanan transportasi tersebut. Sedangkan sepakbola—bisa merujuk pada klub ataupun gelaran sebuah kejuaraan—mampu mendekatkan para penggemar secara mudah dengan adanya sistem transportasi tersebut.

Tidak hanya terbatas pada pemanfaatan infrastruktur yang ada, sepakbola juga dapat meningkatkan citra suatu kota. Sebut saja sebuah klub sepakbola yang bernamakan salah satu kota memiliki potensi tersendiri untuk memperluas branding dari kota tersebut.

Irving Rein dan Ben Shields (2006) mengemukakan bahwa klub memiliki pengaruh terhadap brand dari sebuah kota dengan kemampuan mereka untuk menjangkau pasar yang luas. Klub sepakbola yang terprivatisasi oleh kepemilikan swasta/pribadi memiliki daya untuk menarik bisnis, pariwisata, serta ketertarikan penduduk terhadap suatu kota.

Alasan yang paling sederhana mengapa sepakbola begitu sangat dekat dengan kota  sampai-sampai bisa menjadi cara branding dari sebuah klub adalah; sebuah klub dapat merepresentasikan sebuah kota. Paling mudah, melihat Real Madrid dan FC Barcelona dapat menunjukkan bagaimana sepakbola dapat meningkatkan daya pikat sebuah kota.

Real Madrid merupakan tim yang identik dengan kekayaan, kemewahan, juga segenap prestasi. Itu semua sudah mengakar sejak Jenderal Franco masih menjadi pemimpin di Spanyol.

Kekuatan Los Blancos merupakan bentuk kedigdayaan dari Franco dalam membangun sebuah negara dan kota. Bisa dikatakan, Real Madrid sebagai klub sepakbola merupakan perwujudan Madrid sebagai Ibu Kota dari negara Spanyol.

Lain lagi dengan FC Barcelona yang akan selalu identik dengan kota Barcelona. Terletak pada daerah otonomi Catalonia, kisah perjuangan mereka untuk bisa lepas dari Spanyol, dan bagaimana penerapan budaya demokrasi baik di wilayah kota juga melekat pada klub Barcelona.

Barcelona sebagai klub sepakbola, ya merupakan perwujudan Catalonia.

“Bagi saya, Barcelona sangat spesial. (Kota) ini merupakan harapan dari negara, merepresentasikan bangsa dan kebudayaan Catalan. Barcelona merupakan cara untuk menyalurkan perasaan ketika tidak bisa mengekspresikan diri”, ujar mantan pemain Barcelona yang kini sudah pensiun, Oleguer, dikutip dari Thesefootballtimes.

Kedekatan yang terjadi pada sepakbola dengan sebuah kota itulah yang memberikan keuntungan sendiri. Dengan segala strategi pemasaran pada era industrialisasi ini, Barcelona sebagai kota dapat menikmati Barcelona sebagai klub sepakbola.

Sebagai bukti, pada musim 2014/15, sebesar 1,5% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) kota Barcelona disumbang oleh Blaugrana. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 1,2%. Dilansir dari laporan Deloitte, FC Barcelona mampu menyumbang pada perekonomian dengan total pendapatan €906 juta.

Tak hanya berkontribusi terhadap perekonomian secara makro, sektor pariwisata dapat terpacu dengan hadirnya klub yang bermarkas di wilayah pantai timur laut Spanyol. Masih dalam laporan yang sama, sebanyak 6% alasan dari para turis untuk datang ke Barcelona adalah klub sepakbola itu sendiri. Bahkan, dari 2,5 juta wisatawan yang datang pada musim tersebut, sebesar 1,57 diantaranya memeilih untuk mendatangi Museum Camp Nou.

Nilai jual dari FC Barcelona dapat menunjukkan seberapa kuat ‘jati diri’ dari kota dimana sebuah kesebelasan bermain. Ada hal-hal yang tidak bisa dipisahkan, erat, dan saling berpengaruh satu sama lain. Sepakbola, secara disadari ataupun tidak, memiliki kedekatan yang menjadi keuntungan sendiri bagi sebuah kota.

Memang terlalu sembarangan jika kita menganggap sepakbola akan langsung berperan terhadap pembangunan sebuah kota. Apalagi untuk sekelas pembangunan Ibu Kota yang memerlukan berbagai aspek perencanaan.

Namun, dengan bangsa yang sangat mencintai olahraga sepakbola, masyarakat tidak hanya mendapatkan tontonan selama sembilan puluh menit. Setidaknya, keuntungan dari segi ekonomi dapat diambil oleh penduduk dalam sebuah kota.

Bisa saja setelah pembangunan kota yang telah rampung di Kalimantan Timur nanti, PS Penajam Utara ataupun Mitra Kukar dapat berperan lebih untuk pengembangan Ibu Kota yang baru. Mereka—atau siapapun klub yang akan berdiri ketika Ibu Kota akan dibangun—dapat belajar bahwa sebuah kota dan sepakbola akan terus berdekatan.

Leave a Reply

Reva Bagja Andriana
  Subscribe  
Notify of

Lagi Ngetrend

Lima tips jadi mahasiswa baru yang kerenable persi Balikbandung.id

Feggy Nurdiyansah

Dibaca 844 Kali

Sepakbola dalam Kedekatan Pembangunan Kota

Reva Bagja Andriana

Dibaca 208 Kali

Menjadi Fahmi, si Anak Jalanan Itu

Mutamarid Ghabi Budu

Dibaca 202 Kali

Kiat-kiat Jadi Pengendara yang Sopan Ketika Melewati Tol Cipularang

Feggy Nurdiyansah

Dibaca 195 Kali

Livi Zheng, Penulis Rilis yang Kebetulan Jadi Sutradara

Fikri Arigi

Dibaca 179 Kali

MUSIK: “Fundamental of Desire”, Parakuat (2019) | ALBUM ESSAY

Bobbie Rendra

Dibaca 166 Kali