Yohanes Mati Bahagia

  • Carita
  • Rabu, 23 Oktober 2019

Saya pernah coba-coba menetapkan bahwa satu-satunya cara menyelesaikan problem di dunia temporer ini dengan menghabisi diri sendiri. “Hidup amat kacau,” kataku sambil memutar pedal gas motor dalam-dalam, “menghajar truk sekencangnya, menyudahi semua perkara.”

Saya mencita-citakan sebuah ibu kota yang menenangkan saat hijrah ke Jakarta sebagai pewarta. Kenyataan membantahnya. Tekanan bertubi-tubi dan cacian orang-orang ambisius, yang tiada henti, membuat segala urusan terasa lama, berat, dan menakutkan.

Pernah satu hari, jadwal liputan yang padat dan tumpukan artikel setengah matang datang beriringan dengan hujatan sang raja. Itu belum ditambah dengan kabar bahwa kakek masuk rumah sakit dan tagihan debt collector. Suhu udara Jakarta yang tak bersahabat plus candaan rekan-rekan yang terkadang menyakitkan menjadi pelengkap derita saya di Ibu Kota.

Bagi beberapa orang, deretan problem itu terdengar sepele. Tapi, tidak dengan saya. Problem yang datang dengan jumlah banyak pada satu waktu mesti dituntaskan secepatnya. Jika tidak, saya akan meracau bahwa mati adalah pilihan terbaik.

Namun, perlahan, saya berupaya mengikis racauan itu dengan mengingat pagi di kampung halaman. Ketika ibu asik meracik daun singkong jadi sajian memikat. Atau, saat saya dan ibu menengok kebun singkong di belakang rumah sambil berbual-bual dan menyaksikan ayam yang beradu jotos.

Ingatan demi ingatan tentang kehangatan tersebut mampu membongkar pikiran bengis saya. Dukungan dari orang-orang terdekat pun membuat hati saya lebih lapang dalam menjalani hidup, memandang problem, dan menilai orang-orang.

Kadang, saya ingin menjadi Mersault (tokoh dalam karya Albert Camus) –yang mampu menjilat hidup seperti gula manis, memahatnya, mempertajamnya, dan pada akhirnya mencintainya. Berdamai sekaligus berkawan dengan semua masalah dan menyelesaikannya satu per satu –perlahan dan pasti.

Sejak itu, saya pun berhasil bernegosiasi dengan semua problem dan racauan orang-orang menyebalkan dengan waktu yang tergolong singkat. Tapi, cerita berbeda hadir dari Yohanes Sinaga. Pria berusia 14 tahun itu memutuskan gantung diri di rumahnya yang telah lama kosong, Senin (14/10/19), setelah tidak kuasa menanggung beratnya hidup.

Satu tahun sebelumnya atau pada Januari 2018, Yohanes adalah siswa paling bahagia. Dia mampu menjawab tantangan Presiden Jokowi. Ya, Anda tidak salah baca. J-O-K-O-W-I. Saat itu, Jokowi tengah mempromosikan Kartu Indonesia Pintar.

Di sana, Jokowi menantang siswa-siswi menjabarkan Pancasila. Dengan gagah berani, Yohanes maju dan melafalkan semua sila di hadapan sang presiden, pejabat daerah, guru, dan rekan-rekannya, dengan lancar dan benar. Karena kepintaran dan keberaniannya, Yohanes diganjar dengan sepeda baru.

Akan tetapi, sepeda dari Jokowi tidak lantas memadamkan dendam Yohanes kepada ayahnya. Ya, pada 2014, sang ayah membunuh ibu Yohanes dengan keji. Setelah meninggal dunia, jasad ibunya dicor di rumah terakhir yang Yohanes singgahi.

Sejak itu, api dendam berkobar dalam hati Yohanes. Sialnya, di tengah amarah, kejahatan sang ayah menjadi bahan olok-olok temannya. Setiap hari selama bertahun-tahun, Yohanes disebut tukang cor dan anak keluarga biadab.

Apakah Yohanes marah? Saya tidak tahu. Tapi, sebutan tukang cor tentu menyakitkan bagi Yohanes. Dan melupakan apa yang dilakukan ayahnya merupakan kemustahilan. Memang, kemampuan melupakan dimiliki anak-anak seperti Yohanes. Tapi, Yohanes adalah anak-anak yang kebahagiaannya tergerus dan ketakutannya membesar.

Puncaknya, itu tadi, Yohanes menghabisi dirinya sendiri dengan menyisakan pilu yang luar bisa dan sepucuk surat untuk sang paman.

Saya, dan mungkin Anda, prihatin atas insiden yang menimpa Yohanes. Saya, dan mungkin Anda, jelas mengutuk rekan Yohanes yang menyebut-nyebut tukang cor dan seterusnya dan seterusnya. Saya, dan mungkin Anda, akan luput bahwa bunuh diri bukan perkara menuntaskan masalah dengan kilat. Ada hal-hal lain yang lepas dari atensi saya dan mungkin Anda.

Jika Albert Camus masih hidup dan dimintai pendapat, mungkin dia akan mengatakan bahwa insiden Yohanes adalah hal yang wajar. Sebab, dalam buku berjudul Mati Bahagia, dia berpendapat bahwa keberanian seseorang untuk mati terkadang lebih besar ketimbang keberanian untuk melanjutkan hidup.

Kadar keberanian tersebut ditentukan oleh seberapa jauh kita menunaikan satu-satunya tugas manusia di dunia, yakni berbahagia.

Sambil mengisap rokok favoritnya, Camus mungkin akan berkata “Yohanes mati bahagia.” Jika tidak bahagia, Yohanes mati sadar. Sadar bahwa, sedikit mengikuti judul buku Dea Anugrah, hidup begitu indah, dan hanya duka yang kita punya.

————
Anda bisa mencari bantuan jika mengetahui ada sahabat atau kerabat, termasuk diri anda sendiri, yang memiliki kecenderungan bunuh diri.

Informasi terkait depresi dan isu kesehatan mental bisa diperoleh dengan menghubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas dan Rumah Sakit terdekat, atau mengontak sejumlah komunitas untuk mendapat pendampingan seperti LSM Jangan Bunuh Diri via email janganbunuhdiri@yahoo.com dan saluran telepon (021) 9696 9293, dan Yayasan Pulih di (021) 78842580.

Leave a Reply

Mutamarid Ghabi Budu
  Subscribe  
Notify of

Lagi Ngetrend

Lima tips jadi mahasiswa baru yang kerenable persi Balikbandung.id

Feggy Nurdiyansah

Dibaca 844 Kali

Sepakbola dalam Kedekatan Pembangunan Kota

Reva Bagja Andriana

Dibaca 207 Kali

Menjadi Fahmi, si Anak Jalanan Itu

Mutamarid Ghabi Budu

Dibaca 202 Kali

Kiat-kiat Jadi Pengendara yang Sopan Ketika Melewati Tol Cipularang

Feggy Nurdiyansah

Dibaca 195 Kali

Livi Zheng, Penulis Rilis yang Kebetulan Jadi Sutradara

Fikri Arigi

Dibaca 179 Kali

MUSIK: “Fundamental of Desire”, Parakuat (2019) | ALBUM ESSAY

Bobbie Rendra

Dibaca 166 Kali