BalikBandung,- Provinsi Jawa Barat kembali menegaskan posisinya sebagai motor penggerak ekonomi nasional melalui gelaran akbar bertajuk Sinergi Pentahelix yang berlangsung di Balai Pasundan, Gedung Bank Indonesia Bandung.
Momentum ini menjadi titik awal dua agenda besar sekaligus, yakni Kick Off West Java Economic Society (WJES) 2026 dan peluncuran buku “52 Khutbah Jumat Ekonomi Syariah: Gaung Eksyar” yang digagas sebagai gerakan literasi ekonomi berbasis dakwah.
Acara ini dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Muhammad Nur, serta Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Bandung Koordinator Jawa Barat Martha Fani Cahyandito, bersama para pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, hingga media.
Jawa Barat Tangguh di Tengah Tekanan Global.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global—mulai dari fluktuasi harga energi dan pangan hingga fragmentasi geoekonomi—Jawa Barat justru menunjukkan ketahanan yang impresif.
Pertumbuhan ekonomi tercatat mencapai 5,32% (yoy) pada 2025, sementara inflasi masih terkendali di angka 3,60% (yoy) per Maret 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, Muhammad Nur, optimistis tren positif ini akan berlanjut. Ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada 2026 berada di kisaran 4,9–5,7% (yoy), didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta sektor unggulan seperti industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan.
WJES 2026: Panggung Kolaborasi Masa Depan
WJES 2026 hadir sebagai wadah kolaborasi pentahelix—menggabungkan peran pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media—dengan tema besar:
“Penguatan Ketahanan dan Transformasi Ekonomi Jawa Barat untuk Pertumbuhan yang Inklusif dan Berdaya Saing.”
Forum ini mengusung enam subtema strategis, di antaranya:
Ekonomi hijau dan sirkular
Ekonomi syariah
Transformasi digital dan inklusi keuangan
Ketahanan pangan dan rantai pasok
Investasi dan infrastruktur
Pemerataan pembangunan
Sebagai langkah konkret, dibuka kompetisi Call for Recommendative Papers (CFRP) 2026 dengan hadiah puluhan juta rupiah guna menjaring ide kebijakan terbaik dari akademisi dan peneliti.
Gaung Eksyar: Dakwah Ekonomi Syariah yang Membumi
Tak kalah penting, peluncuran buku “52 Khutbah Jumat Ekonomi Syariah: Gaung Eksyar” menjadi inovasi strategis dalam meningkatkan literasi ekonomi syariah di masyarakat.
Buku ini disusun oleh tokoh nasional seperti Adiwarman Azwar Karim, M. Syafii Antonio, dan Muhammad Cholil Nafis.
Menariknya, sebagian materi disajikan dalam Bahasa Sunda untuk mendekatkan pesan kepada masyarakat lokal.
Program ini ditargetkan mampu meningkatkan literasi ekonomi syariah nasional dari 50,18% pada 2025 menjadi 70% pada 2030, sekaligus memperkuat peran masjid sebagai pusat edukasi
ekonomi umat.
Dedi Mulyadi: Ekonomi Harus Berdampak Nyata
Dalam arahannya, Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti pada angka statistik semata.
Menurutnya, transformasi ekonomi harus menyentuh perubahan pola pikir masyarakat menuju ekonomi yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Ia juga menekankan pentingnya rekomendasi WJES yang berbasis realitas lapangan, khususnya dalam:
Penguatan ekonomi desa
Pengembangan ekonomi syariah
Penerapan ekonomi hijau
Dengan semangat kearifan lokal, ia menggambarkan kolaborasi ini sebagai filosofi Sunda: “sareunduk saigel, sabogobot sapikahean”—bergerak bersama demi kemajuan bersama.
Ajakan Terbuka: Semua Bisa Jadi Agen Perubahan
Melalui sinergi ini, Bank Indonesia Jawa Barat bersama pemerintah daerah dan ISEI mengajak seluruh elemen masyarakat untuk aktif berkontribusi.
Akademisi dan peneliti didorong mengikuti CFRP 2026 (deadline 30 Juni 2026)
Khatib dan pengurus masjid diajak memanfaatkan buku Gaung Eksyar
Masyarakat umum dapat berpartisipasi dalam Sarasehan Ekonomi di Cirebon, Tasikmalaya, dan Bandung.
Langkah ini menjadi bukti bahwa pembangunan ekonomi bukan hanya tugas pemerintah, melainkan gerakan kolektif seluruh elemen bangsa.
Sinergi Pentahelix bukan sekadar seremoni, tetapi fondasi nyata menuju Jawa Barat yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing global. Dari forum intelektual hingga mimbar khutbah, transformasi ekonomi kini bergerak lebih luas—menjangkau pikiran, hati, dan tindakan masyarakat.







