BalikBandung,– Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat merilis laporan terbaru mengenai indikator strategis pembangunan daerah dalam Berita Resmi Statistik (BRS) yang digelar pada Senin (4/5/2026) secara daring melalui kanal Youtube BPS Jabar.
Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, merilis data yang mencakup perkembangan inflasi, Nilai Tukar Petani (NTP), pariwisata, transportasi, hingga kinerja ekspor-impor.
Ia mengatakan Jawa Barat mencatatkan deflasi sebesar 0,07 persen secara month to month (mtm). Angka ini menunjukkan penurunan harga dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi 0,52 persen.
Secara tahunan, inflasi year on year (yoy) April 2026 berada di level 2,49 persen, sedangkan secara year to date (ytd) April 2026 sebesar 1,17 persen.
“Deflasi April 2026 ini didorong oleh normalisasi harga pasca-Idulfitri, terutama pada komoditas pangan seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, serta penurunan tarif angkutan antar kota,” ujar Ari.
Selain faktor domestik, penurunan harga emas dunia juga memberikan kontribusi terhadap andil deflasi. Secara spasial, dari 10 kabupaten/kota yang dipantau, sembilan di antaranya mengalami deflasi dengan angka terdalam di Kabupaten Subang sebesar 0,28 persen. Sebaliknya, Kota Sukabumi menjadi satu-satunya wilayah yang mengalami inflasi tipis sebesar 0,04 persen.
Sedangkan secara year on year (yoy) April 2026 inflasi sebesar 2,49 persen sudah terbebas dari faktor _low base effect_ tarif listrik tahun lalu, sehingga angka ini mencerminkan angka inflasi _yoy_ yang sebenernya.
Adapun komoditas yang memberikan andil inflasi tertinggi _year on year_ April 2026 yaitu emas perhiasan sebesar 0,81 persen, daging ayam ras sebesar 0,21 persen, beras sebesar 0,17 persen, minyak goreng sebesar 0,09 persen, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,08 persen.







