banner 1280x160

Jawa Barat Raih Penghargaan Adibahasa 2026, Indeks Pembangunan Kebahasaan Lampaui Nasional

Sekda Jawa Barat Herman Suryatman menerima penghargaan Adibahasa 2026 dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Jawa Barat meraih predikat terbaik dengan Indeks Pembangunan Kebahasaan 62,15, melampaui rata-rata nasional. (Foto Humas Jabar)

BALIKBANDUNG.id – Jawa Barat kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Kali ini, Pemprov Jabar meraih penghargaan Adibahasa 2026 dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkat capaian pembangunan kebahasaan yang melampaui rata-rata nasional.

Jawa Barat mencatat Indeks Pembangunan Kebahasaan sebesar 62,15, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 51,56.

Penghargaan tersebut diterima langsung Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Herman Suryatman dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dalam acara Puncak Bulan Bahasa dan Sastra 2026 di Plaza Insan Berprestasi, Kompleks Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026).

Herman mengatakan, penghargaan ini merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak dalam mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa Indonesia serta bahasa daerah di Jawa Barat.

Kolaborasi tersebut melibatkan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa dan kelurahan, Balai Bahasa Jawa Barat, hingga masyarakat.

Menurutnya, upaya memajukan bahasa tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas juga diperlukan agar bahasa Indonesia dan bahasa daerah tetap berkembang di tengah perubahan zaman.

“Ini adalah kolaborasi semua pihak sehingga Jawa Barat diberikan kehormatan menjadi provinsi terbaik dan mendapatkan anugerah Adibahasa 2026 dengan indeks pembangunan kebahasaan mencapai 62,15, di atas rata-rata nasional 51,56,” ujar Herman.

Ia menyebut penghargaan tersebut dipersembahkan untuk seluruh masyarakat Jawa Barat yang selama ini ikut menjaga dan melestarikan bahasa.

Herman juga mengingatkan pentingnya penerapan prinsip Trigatra Bangun Bahasa, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.

Didukung Berbagai Program Kebahasaan

Capaian Jawa Barat dalam penilaian Indeks Pembangunan Kebahasaan dan Kesastraan (IPEBAS) 2025 tidak terlepas dari sejumlah program yang telah dijalankan.

Di antaranya penerbitan 100 judul buku terjemahan dwibahasa untuk memperluas akses pengetahuan, penguatan kemampuan berbahasa Indonesia melalui Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), serta pembinaan 50 lembaga dan penggerakan 92 komunitas literasi.

Sementara dalam upaya menjaga bahasa daerah, Pemprov Jabar memiliki landasan kebijakan melalui Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 14 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 mengenai Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah.

Implementasinya dilakukan melalui program Tunas Bahasa Ibu yang melibatkan 742 siswa SD dan SMP dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat.

Program tersebut menjadi salah satu upaya mengenalkan bahasa daerah kepada generasi muda sekaligus memastikan bahasa ibu tetap diwariskan di tengah perkembangan zaman.

Penghargaan Jadi Apresiasi atas Komitmen Daerah

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan, penghargaan Adibahasa merupakan bentuk pengakuan atas dedikasi dan kontribusi individu maupun lembaga dalam memajukan bahasa Indonesia.

Menurutnya, capaian tersebut tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui komitmen dan kerja berkelanjutan.

“Penghargaan yang Bapak dan Ibu peroleh bukan sesuatu yang instan, tetapi menunjukkan bagaimana dedikasi, komitmen, dan kontribusi Bapak dan Ibu sekalian, sebagai pribadi dan sebagai lembaga, dalam memajukan dan mengangkat harkat dan martabat bahasa Indonesia,” kata Abdul Mu’ti.

Ia juga mengapresiasi Badan Bahasa yang secara rutin menyelenggarakan kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra sebagai bagian dari penguatan Trigatra Bangun Bahasa.

Penghargaan Adibahasa 2026 menjadi pengakuan atas upaya Jawa Barat dalam membangun ekosistem kebahasaan. Ke depan, kolaborasi berbagai pihak diharapkan terus diperkuat agar bahasa Indonesia tetap menjadi pemersatu, sementara bahasa daerah tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus.*