banner 1280x160

Pupuk Indonesia Bangun Pabrik Soda Ash, Tekan Ketergantungan Impor dan Perkuat Industri Nasional

Penandatanganan kontrak EPCC Proyek Soda Ash dan Amonium Klorida antara PT Petrokimia Gresik dan PT Rekayasa Industri sebagai langkah strategis Pupuk Indonesia dalam memperkuat hilirisasi, mengurangi ketergantungan impor, dan meningkatkan kemandirian industri nasional. (Istimewa)

BALIKBANDUNG.id – PT Pupuk Indonesia (Persero) terus memperkuat hilirisasi industri nasional melalui pengembangan pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida di kawasan Petrokimia Gresik, Jawa Timur.

Proyek ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan industri nasional, mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan emisi karbon menjadi produk kimia bernilai tambah.

Pengembangan tersebut ditandai dengan penandatanganan kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) antara PT Petrokimia Gresik dan PT Rekayasa Industri (Rekind), yang merupakan bagian dari Pupuk Indonesia Group.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan hilirisasi menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan kemampuan industri dalam negeri dalam menghasilkan bahan baku secara mandiri.

“Melalui hilirisasi, kita memperluas kemampuan Indonesia menghasilkan bahan baku industri, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Rahmad.

Ia menjelaskan, kebutuhan Soda Ash nasional pada 2025 masih sepenuhnya dipenuhi melalui impor dengan volume sekitar 1,05 juta ton senilai 225 juta dolar AS.

Dengan kapasitas produksi yang direncanakan mencapai 300.000 ton per tahun, pabrik Soda Ash Petrokimia Gresik berpotensi menggantikan sekitar 29 persen volume impor. Langkah ini diperkirakan mampu menghemat devisa hingga Rp1,4 triliun per tahun.

Selain Soda Ash, pabrik tersebut juga dirancang menghasilkan Amonium Klorida dengan kapasitas 300.000 ton per tahun. Produk ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi pupuk NPK sehingga memperkuat integrasi rantai pasok industri kimia dan pupuk nasional.

Proyek ini menjadi bagian dari agenda industrialisasi Pupuk Indonesia melalui pembangunan dan revitalisasi delapan pabrik dalam lima tahun ke depan.

Rahmad menegaskan, perusahaan memiliki dua mandat strategis yang saling berkaitan, yakni menjaga ketahanan pangan sekaligus membangun kedaulatan industri nasional.

“Pupuk Indonesia mengemban dua mandat strategis yang saling memperkuat, yaitu menjaga ketahanan pangan dan membangun kedaulatan industri nasional. Kedua mandat ini menjadi arah bagi setiap investasi, inovasi, dan langkah transformasi yang kita jalankan,” katanya.

Manfaatkan 174 Ribu Ton CO2 per Tahun

Selain memperkuat kapasitas industri, proyek Soda Ash dan Amonium Klorida Petrokimia Gresik juga mengusung teknologi rendah karbon.

Pabrik tersebut dirancang memanfaatkan sekitar 174.000 ton karbon dioksida (CO2) per tahun yang berasal dari proses produksi pupuk.

Pemanfaatan karbon tersebut menjadi bagian dari transformasi hijau Pupuk Indonesia melalui upaya dekarbonisasi secara bertahap menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Menurut Rahmad, pengembangan teknologi rendah karbon tidak hanya mendukung pengurangan emisi, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi melalui pengolahan karbon menjadi bahan baku produk industri.

“Melalui Proyek Soda Ash dan Amonium Klorida ini, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi dapat dikembangkan menjadi kemampuan industri, dan bahwa teknologi rendah karbon dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata,” tambahnya.

Dalam mendukung pengembangan teknologi tersebut, Petrokimia Gresik telah melakukan pengujian teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) melalui fasilitas pilot plant.

Teknologi ini digunakan untuk menangkap dan mengolah CO2 dari proses industri menjadi Soda Ash. Hasil pengujian mencatat efisiensi penangkapan karbon mencapai 91,48 hingga 97,79 persen.

Capaian tersebut menunjukkan potensi teknologi CCU dalam mengoptimalkan pemanfaatan karbon sebagai bahan baku industri sekaligus mendukung pengembangan industri yang lebih ramah lingkungan.

Rahmad menilai momentum ini menjadi kesempatan bagi Pupuk Indonesia Group untuk memperluas peran industri pupuk sebagai penggerak transformasi industri nasional.

Hal tersebut dilakukan melalui penguatan pasokan bagi sektor pertanian, perluasan hilirisasi, serta pengembangan industri rendah karbon yang memiliki daya saing.

Dua Pabrik Soda Ash Perkuat Kemandirian Industri

Tidak hanya di Jawa Timur, Pupuk Indonesia juga tengah mengembangkan pabrik Soda Ash melalui PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) di Bontang, Kalimantan Timur.

Kedua proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi gabungan mencapai 600.000 ton Soda Ash per tahun. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 60 persen dari volume impor Soda Ash nasional.

Apabila kedua pabrik beroperasi penuh, Pupuk Indonesia memperkirakan proyek ini berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor sekaligus menghemat devisa sekitar Rp2 triliun per tahun.

Pengembangan kedua fasilitas tersebut diharapkan menjadi langkah penting dalam memperkuat industri kimia nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya dalam negeri, serta membangun kemandirian pasokan bahan baku industri Indonesia.*