banner 1280x160

Pindad Uji Coba Teknologi Pengolahan Sampah

BalikBandung,- Langkah serius pemerintah dalam mengubah wajah pengelolaan sampah nasional mulai terlihat dengan pendekatan berbasis teknologi mutakhir. Dari incinerator tanpa asap hingga pengolahan berbasis plasma, berbagai inovasi disiapkan untuk menjawab persoalan klasik yang selama ini menumpuk di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) yang digelar di Auditorium PT Pindad, Bandung, Jumat (3/4/2026). Pertemuan ini melibatkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, serta Direktur Utama PT Pindad Sigit P. Santosa, bersama sejumlah pemangku kepentingan lintas sektor.

Dalam forum tersebut, Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan bahwa penanganan sampah tidak bisa lagi mengandalkan pola lama. Ia mendorong strategi desentralisasi pengelolaan sampah terpadu, khususnya untuk mengurai beban TPST Bantargebang yang selama ini menjadi titik krusial persoalan sampah di Indonesia.

“Penyelesaian pengelolaan sampah Bantargebang perlu dilakukan dari hulu dan hilir. Hulu penghentian arus pasokan sampah, hilirnya percepatan pengurangan gunungan sampah dan penghijauan. Kunci masalah sampah ini yaitu tata kelola dan lahan,” ujar Brian.

Pendekatan desentralisasi ini dinilai menjadi game changer, karena memungkinkan pengolahan sampah dilakukan lebih dekat dengan sumbernya, mulai dari tingkat kelurahan hingga kecamatan. Dengan demikian, volume sampah yang dikirim ke TPST besar dapat ditekan secara signifikan.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menambahkan, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada sistem yang dibangun secara terintegrasi, termasuk transformasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3A) yang sudah ada.

“Permasalahan sampah Bantargebang bisa terselesaikan dengan catatan desentralisasi sudah berjalan. Sistemnya yang perlu dibangun, TPS3A yang sudah ada nanti akan bertransformasi. Dengan adanya berbagai opsi teknologi pengolahan sampah, semoga ini bisa diterapkan hingga ke skala desa,” ungkap Hanif.

Sementara itu, PT Pindad sebagai mitra industri strategis menghadirkan sejumlah teknologi unggulan dalam pengelolaan sampah modern.

Direktur Utama PT Pindad Sigit P. Santosa menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan berbagai solusi teknologi dengan pendekatan berbeda sesuai karakteristik sampah.

Beberapa teknologi yang diperkenalkan di antaranya Hydrothermal Carbonization (HTC), autothermix, teknologi plasma assisted oxidation, hingga Smokeless Incinerator Stungta Pindad yang bersifat mobile. Teknologi ini dirancang untuk mengurangi emisi, meningkatkan efisiensi, serta memungkinkan konversi sampah menjadi energi atau material bernilai.

“Arahan Presiden untuk melakukan desentralisasi sampah akan diselesaikan di tingkat kelurahan dan kecamatan. Pilot project pertama akan dilakukan di DKI Jakarta dan Bandung, kemudian diperluas ke daerah lain,” jelas Sigit.

Sebagai bagian dari implementasi nyata, rombongan Rakortas juga meninjau langsung proses pengolahan sampah menggunakan teknologi autothermix di Kelurahan Kebon Waru, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung. Peninjauan dilakukan dengan menggunakan kendaraan taktis Maung MV3 produksi PT Pindad.

Langkah ini menandai babak baru pengelolaan sampah di Indonesia, di mana teknologi tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan menjadi tulang punggung solusi. Jika berjalan sesuai rencana, pendekatan ini bukan hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru dari pengolahan sampah berbasis inovasi.