BALIKBANDUNG.id – PT Kimia Farma (Persero) Tbk membuka peluang kerja sama manufaktur bagi perusahaan farmasi yang ingin mengembangkan produk maupun memanfaatkan fasilitas produksi tanpa harus membangun infrastruktur manufaktur sendiri.
Peluang tersebut ditawarkan melalui layanan Contract Manufacturing Organization (CMO) yang diperkenalkan dalam Indonesia Pharmaceutical Expo (IPEX) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 20–23 Oktober 2026.
Melalui Unit Toll Manufacturing bersama anak usahanya, PT Sinkona Indah Lestari (SIL) dan PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP), Kimia Farma menghadirkan sejumlah pilihan kerja sama yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis dan kesiapan pengembangan produk mitra.
Head of Toll Manufacturing PT Kimia Farma (Persero) Tbk, Hendro Tri Pancoro, mengatakan layanan manufaktur kontrak dapat menjadi pilihan bagi pelaku industri yang membutuhkan dukungan fasilitas produksi sesuai kebutuhan produk dan ketentuan regulasi.
“Industri farmasi membutuhkan mitra produksi yang andal, memenuhi persyaratan regulasi, dan mampu mendukung pengembangan bisnis secara berkelanjutan. Melalui IPEX 2026, kami memperkenalkan kapabilitas manufaktur Kimia Farma sebagai pilihan solusi bagi mitra, mulai dari sediaan injeksi steril dan softgel hingga produk dengan persyaratan perizinan khusus. Kami membuka peluang kolaborasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tahapan pengembangan produk masing-masing mitra,” ujar Hendro.
Kimia Farma menawarkan tiga skema kerja sama, yakni Original Equipment Manufacturer/Original Design Manufacturer (OEM/ODM), jasa produksi atau Toll Manufacturing, serta jasa teknis.
Melalui skema OEM/ODM, mitra dapat menjajaki penyediaan atau pengembangan produk berbasis dossier dan izin edar Kimia Farma untuk dipasarkan menggunakan merek sendiri, sesuai ketentuan yang berlaku.
Skema ini memiliki estimasi waktu menuju komersialisasi sekitar enam hingga 12 bulan, bergantung pada kesiapan produk dan persyaratan yang harus dipenuhi.
Sementara itu, layanan Toll Manufacturing ditujukan bagi perusahaan yang telah memiliki formula atau produk dan membutuhkan dukungan fasilitas produksi Kimia Farma. Prosesnya dapat mencakup transfer proses, validasi, serta pengujian stabilitas sesuai kebutuhan dan ketentuan regulasi.
Untuk skema tersebut, estimasi waktu menuju produksi komersial berkisar 12–18 bulan.
Adapun layanan jasa teknis mencakup pengembangan formulasi, transfer teknologi, pengujian stabilitas, dukungan registrasi dan penyusunan dossier izin edar, hingga reservasi kapasitas produksi. Layanan ini dapat dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan mitra.
Hendro menjelaskan, perbedaan skema tersebut memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam menentukan bentuk kolaborasi, baik untuk mengembangkan produk dengan merek sendiri maupun memproduksi formula yang telah dimiliki.
“Kami menyesuaikan model kerja sama dengan kebutuhan dan kesiapan setiap mitra. Melalui skema OEM/ODM, mitra dapat menjajaki peluang pengembangan produk menggunakan merek sendiri. Sementara itu, bagi perusahaan yang telah memiliki formula dan membutuhkan dukungan fasilitas produksi, layanan Toll Manufacturing dapat menjadi pilihan. Kami berharap kerja sama ini dapat menciptakan nilai tambah bagi para mitra sekaligus memperluas peluang pengembangan produk farmasi,” katanya.
Dalam menjalankan layanan tersebut, Kimia Farma mengedepankan kualitas produk, keandalan pasokan, dan pertumbuhan berkelanjutan dengan mengacu pada ketentuan regulator terkait.
Perusahaan juga mengoptimalkan fasilitas produksi di Jakarta, Banjaran, Kabupaten Bandung, dan Watudakon, Jombang, yang memiliki total 24 lini produksi dengan kapasitas terencana mencapai 4,18 miliar unit per tahun.
Melalui layanan CMO, Kimia Farma berupaya memperluas kemitraan strategis dengan pelaku industri farmasi dan kesehatan nasional maupun global. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi optimalisasi aset produksi serta penguatan daya saing industri farmasi Indonesia.*







