BALIKBANDUNG.id – Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) bekerja sama dengan Perkumpulan Manajemen Sumber Daya Manusia (PMSM) Indonesia dan Asosiasi Perusahaan Recruitment dan Executive Search Indonesia (APRESI) menyelenggarakan Human Capital Management (HCM) Talks Series ke-6 bertajuk “Navigating Talent, Technology and Future of Work through Human Capital” di Kampus SBM ITB Jakarta, Selasa (9/6/2026). Forum ini menjadi wadah kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan asosiasi profesi untuk membahas berbagai tantangan serta peluang pengelolaan sumber daya manusia di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat.
Wakil Dekan Bidang Sumber Daya SBM ITB, Prof. Donald Crestofel Lantu, S.T., M.B.A., Ph.D., dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan asosiasi profesi dalam membangun ekosistem talenta Indonesia. Menurutnya, SBM ITB berperan dalam menghasilkan talenta melalui pendidikan, APRESI berperan sebagai penghubung kebutuhan pasar tenaga kerja, sementara PMSM menjadi wadah para praktisi dalam mengembangkan sumber daya manusia di berbagai organisasi.
“Jangan pernah menghilangkan faktor manusia. Gunakan teknologi sebagai pendukung dan teruslah menjadi pembelajar sepanjang hayat yang mampu menavigasi perubahan dengan nilai dan tujuan yang jelas,” ujar Prof. Donald.

Senada dengan hal tersebut, Chairman PMSM Indonesia sekaligus Chief People Officer Tiket.com, Dudi Arisandi, menegaskan komitmen PMSM dalam membangun ekosistem Human Capital melalui kolaborasi pentahelix antara dunia pendidikan, industri, dan asosiasi profesi. Sebagai organisasi yang telah berdiri lebih dari 46 tahun, PMSM terus mendorong pengembangan talenta Indonesia melalui berbagai program pengembangan kompetensi dan jejaring profesional.

Sementara itu, Chairman APRESI sekaligus CEO Recruit Asia, Ricky Mulani, menyoroti pentingnya peran industri rekrutmen dalam menjembatani kebutuhan organisasi dengan talenta yang tepat. Menurutnya, meskipun teknologi terus berkembang, pemahaman terhadap karakter, potensi, dan kesesuaian kandidat dengan budaya organisasi tetap membutuhkan sentuhan manusia yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

Pada sesi keynote speech, Ketua Senat SBM ITB sekaligus Chair of the People and Knowledge Management Interest Group SBM ITB, Prof. Dr. Henndy Ginting, S.Psi., M.Si., Psikolog, menjelaskan bahwa dunia kerja saat ini tengah menghadapi tiga dinamika utama, yaitu akselerasi digital dan kecerdasan buatan, perubahan ekspektasi tenaga kerja, serta transformasi fungsi Human Capital dari peran administratif menjadi mitra strategis organisasi.
Menurutnya, masa depan dunia kerja bukanlah tentang menggantikan manusia dengan teknologi, melainkan bagaimana manusia dan teknologi dapat saling melengkapi. Untuk menghadapi kompleksitas tersebut, organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu mengintegrasikan kapasitas personal, sosial, bisnis, organisasi, dan global melalui konsep Kepemimpinan Paripurna (Omni-Leadership).

Diskusi kemudian berlanjut dalam tiga sesi panel yang membahas pasar talenta Indonesia, masa depan dunia kerja, serta pemanfaatan teknologi Human Capital dalam transformasi organisasi.
Pada sesi pertama bertajuk “Indonesia Talent Market 2026: From Hiring to Strategic Talent Management in a Competitive Market”, Director of the Center for Policy and Public Management SBM ITB, Yudo Anggoro, S.T., M.Sc., Ph.D., mengingatkan bahwa pengelolaan talenta tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi nasional. Perlambatan ekonomi, melemahnya kelas menengah, serta tantangan sektor manufaktur berdampak langsung terhadap dinamika pasar tenaga kerja Indonesia.

Dari perspektif industri rekrutmen, Founder & Managing Director Talent Hunts Indonesia sekaligus General Treasurer & Head of Learning Development APRESI, Bagus Hendrayono, menyoroti fenomena kesenjangan keterampilan (skill gap) yang masih menjadi tantangan utama. Meskipun jumlah tenaga kerja Indonesia sangat besar, banyak perusahaan masih mengalami kesulitan mendapatkan talenta dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan bisnis.
“Masalah terbesar kita bukan soal jumlah talenta. Yang menjadi tantangan adalah apakah keterampilan yang dimiliki kandidat benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” jelas Bagus.

Sesi kedua mengangkat tema “Future of Work: Redesigning Work, Workforce, and Workplace”. Assistant Professor SBM ITB, Muhammad Yorga Permana, S.T., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa perkembangan AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru bagi organisasi. AI dapat meningkatkan produktivitas, namun juga memunculkan pertanyaan mengenai masa depan pekerjaan, model kepemimpinan, dan kebutuhan kompetensi tenaga kerja.

Melengkapi perspektif tersebut, Chief of Human Resources & Corporate Services PT Asuransi Jiwa Sequis Life sekaligus Treasury PMSM Indonesia, Agustina Samara, menekankan bahwa masa depan dunia kerja tidak lagi hanya berbicara mengenai teknologi, tetapi juga kemampuan manusia untuk terus relevan dan beradaptasi.
“Future of work bukan lagi soal teknologi semata, tetapi bagaimana kita sebagai manusia memiliki relevansi dan growth mindset untuk menghadapi perubahan,” ungkap Agustina.

Pada sesi ketiga bertajuk “Human Capital Technology: Leveraging HR Tech for Organizational Transformation”, para narasumber membahas bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sumber daya manusia tanpa menghilangkan aspek kemanusiaan dalam prosesnya.
Associate Professor SBM ITB, Achmad Ghazali, S.T., M.A.B., Ph.D., menekankan bahwa teknologi seharusnya tidak hanya digunakan untuk efisiensi administratif, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan berbasis data. Sementara itu, Assistant Professor SBM ITB, Dr. rer. pol. Fajar Hendarman, S.T., M.S.M., menyoroti pentingnya digital mindset dan kemampuan belajar berkelanjutan sebagai fondasi transformasi digital.


Melengkapi diskusi, Executive Vice President Human Capital Strategy & Talent Management PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sekaligus Head of Learning & Development Department PMSM Indonesia, Suryo Sasono, membagikan pengalaman implementasi HR Technology di berbagai organisasi. Menurutnya, teknologi harus digunakan untuk menyelesaikan masalah yang nyata dan bukan sekadar mengikuti tren digitalisasi.
“Kadang-kadang kita terlalu cepat ingin menggunakan teknologi. Padahal yang perlu kita lakukan terlebih dahulu adalah memahami masalah yang ingin diselesaikan,” ujarnya.

Melalui interaksi berkelanjutan antara akademisi dan praktisi, HCM Talks Series #6 menegaskan bahwa tantangan pengelolaan Human Capital saat ini tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga kesiapan talenta, kepemimpinan, dan kemampuan organisasi untuk beradaptasi. Kolaborasi antara dunia pendidikan, industri, dan asosiasi profesi menjadi kunci dalam membangun talenta Indonesia yang lebih kompetitif dan siap menghadapi masa depan dunia kerja.***











