banner 1280x160
Ragam  

Sidang Terbuka 106 Tahun PTTI, ITB Beri Penghargaan kepada 20 Tokoh dan Institusi

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. memberikan penghargaan kepada individu-individu yang telah memberikan kontribusi luar biasa bagi pengembangan institusi maupun kemajuan pendidikan tinggi teknik di Indonesia.

BALIKBANDUNG.id – Institut Teknologi Bandung (ITB) menganugerahkan penghargaan tertinggi kepada 20 tokoh dan institusi dalam Sidang Terbuka Peringatan 106 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) yang digelar di Aula Barat Kampus Ganesha, Jumat (3/7/2026).

Penganugerahan tersebut menjadi puncak rangkaian peringatan lebih dari satu abad perjalanan pendidikan tinggi teknik di Indonesia sekaligus menegaskan komitmen ITB sebagai institusi yang terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat serta keberlanjutan kehidupan.

Pada sidang terbuka tersebut, ITB memberikan dua kategori penghargaan. Sebanyak 11 tokoh menerima Ganesa Widya Jasa Adiutama, penghargaan yang diberikan kepada individu yang dinilai memiliki dedikasi dan jasa luar biasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, pendidikan, serta kemajuan ITB.

Para penerima penghargaan tersebut adalah Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, Professor Zhang Baohua, Ir. Triharyo Indrawan Soesilo, M.S.Ch.E., I.P.U., Professor Nicholas Rawlinson, Ir. Ignesjz Kemalawarta, M.B.A., Dr. Suhendra Yusuf Ratuprawiranegara, S.T., M.I.Kom., Dra. apt. Anita Ekajanti, M.M., M.B.A., Prof. Bayu Jaya Wardhana, S.T., M.Eng., DIC, Ph.D., Prof. Benny Tjahjono, Ph.D., dan Tri Mumpuni.

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. berfoto bersama para penerima penghargaan Ganesa Widya Jasa Adiutama.

Sementara itu, sembilan tokoh dan institusi menerima Ganesa Wirya Jasa Adiutama, penghargaan yang diberikan kepada pihak yang telah menunjukkan pengabdian, kontribusi, dan dukungan besar terhadap pengembangan ITB maupun pendidikan tinggi teknik di Indonesia.

Mereka adalah Ir. Simon Aloysius Mantiri, S.T., M.B.A., Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen, Destry Damayanti, S.E., M.Sc., Dr. Safitri Siswono, S.T., M.M., Dr. Ir. Danis Hidayat Sumadilaga, M.Eng.Sc., Hadi Ismoyo, S.T., Muhammad Shabran Fauzani, S.E., M.App.Fin., CRP., Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, M.S., serta Dr. Ir. Suroso Isnandar, S.T., M.Sc., I.P.U., ASEAN Eng., QRGP.

Pemberian penghargaan tersebut menjadi simbol bahwa kemajuan ITB merupakan hasil kolaborasi dan kontribusi berbagai pihak yang terus menjaga serta mengembangkan warisan intelektual bangsa.

Rektor: Keunggulan Perguruan Tinggi Ditentukan Kolaborasi

Dalam sambutannya, Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menegaskan bahwa peringatan PTTI bukan sekadar momentum mengenang sejarah, melainkan ajakan untuk mempersiapkan masa depan.

“Sejarah tidak pernah meminta kita berhenti mengagumi masa lalu. Sejarah selalu mengajukan pertanyaan baru kepada setiap generasi. Setelah semua yang diwariskan kepada kita, apa yang akan kita wariskan kepada masa depan?” ujarnya.

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. menyampaikan sambutan pada Sidang Terbuka Peringatan 106 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Jumat (3/7/2026).

Menurut Tatacipta, tantangan pendidikan tinggi teknik di abad ke-21 tidak lagi dapat diselesaikan secara parsial. Melalui gagasan intellectual humility dan Budaya Ke-4, ITB menekankan pentingnya kolaborasi serta interdependensi dalam menjawab berbagai persoalan global.

“Keunggulan perguruan tinggi abad ke-21 tidak lagi ditentukan oleh kemampuannya berdiri sendiri, melainkan oleh kemampuannya menjadi simpul yang menghubungkan berbagai kecerdasan untuk menghasilkan kemaslahatan bersama,” tegasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi bukanlah tanda kelemahan, melainkan cerminan kedewasaan sebuah peradaban.

Tri Mumpuni: Sains Harus Berpihak pada Keberlanjutan

Sidang terbuka juga diisi dengan orasi ilmiah oleh pakar energi terbarukan, Tri Mumpuni, yang mengangkat tema “Sains dan Teknologi untuk Keberlanjutan Kehidupan: antara Pertumbuhan, Keadilan Sosial, dan Kelestarian Lingkungan.”

Dalam orasinya, Tri menekankan bahwa Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan hayati, keragaman budaya, serta kondisi geografis yang dapat menjadi fondasi lahirnya inovasi dan teknologi yang relevan, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga dunia.

“Indonesia memiliki modal besar berupa keragaman hayati, budaya, dan kondisi geografis yang dapat menjadi landasan untuk melahirkan pengetahuan dan teknologi yang relevan bagi dunia,” katanya.

Pakar Energi Terbarukan, Tri Mumpuni menyampaikan orasi ilmiah dengan tema “Sains dan Teknologi untuk Keberlanjutan Kehidupan: antara Pertumbuhan, Keadilan Sosial dan Kelestarian Lingkungan”.

Gagasan tersebut sejalan dengan visi ITB untuk memperkuat kolaborasi lintas disiplin, lintas institusi, hingga lintas negara dalam menghadapi tantangan global, mulai dari ketahanan pangan, transisi energi, pembangunan kota berkelanjutan, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan.

Menutup sambutannya, Tatacipta menegaskan bahwa warisan terbesar sebuah universitas bukanlah bangunan megah ataupun laboratorium yang canggih, melainkan budaya berpikir yang terbuka dan kolaboratif.

“Warisan terbesar adalah budaya berpikir yang terbuka, rendah hati, dan mampu melahirkan kolaborasi,” pungkasnya.

Melalui peringatan 106 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia, ITB kembali menegaskan komitmennya untuk menjadi perguruan tinggi yang adaptif, menghasilkan inovasi yang berdampak, serta mencetak generasi unggul yang tidak hanya berdaya saing secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.*