banner 1280x160

TPA Sarimukti Diprediksi Penuh Akhir 2026, Jabar Siapkan Sejumlah Solusi

Sekda Jabar Herman Suryatman menegaskan, penanganan sampah Bandung Raya harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Dengan produksi sekitar 5.000 ton sampah per hari dan TPA Sarimukti diproyeksikan penuh akhir 2026, Pemprov Jabar menyiapkan optimalisasi TPA, teknologi pengolahan sampah, serta pelibatan 25.000 mahasiswa untuk mengedukasi masyarakat. (Foto Ilustrasi AI)

BALIKBANDUNG.id – Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti diproyeksikan mencapai kapasitas penuh pada akhir 2026. Di sisi lain, kawasan Bandung Raya masih menghasilkan sekitar 5.000 ton sampah setiap hari.

Mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari memperpanjang masa operasional TPA Sarimukti hingga mengolah sampah lama menjadi bahan bakar.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan, penanganan sampah harus dilakukan bersama-sama dari hulu hingga hilir agar tidak terjadi krisis sampah di Bandung Raya.

“Tidak boleh ada ledakan sampah di Bandung Raya. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus kerja keras semuanya,” ujar Herman seusai Rapat Paripurna DPRD Jawa Barat di Gedung DPRD Jabar, Selasa (6/10/2026).

Zona 5 Sarimukti Dioptimalkan

Salah satu langkah yang disiapkan Pemprov Jabar adalah mengoptimalkan Zona 5 TPA Sarimukti untuk menambah kapasitas tampung dan memperpanjang masa operasionalnya.

Herman mengatakan, pihaknya bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan para ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) telah melakukan analisis cepat untuk menentukan langkah teknis yang dapat diterapkan.

Penanganan dilakukan melalui rekayasa teknis dengan mempertimbangkan kondisi serta keamanan area, termasuk potensi bahaya gas metana.

“Ini akan kami compacting sampai Desember sehingga usianya bisa diperpanjang. Berapa bulan tambahan usianya, nanti kita lihat dari analisis ITB,” katanya.

Selain itu, Pemprov Jabar menyiapkan pembangunan gravity wall di sisi selatan dan timur TPA Sarimukti. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat mendukung penambahan ruang tampung dan memperpanjang masa operasional tempat pemrosesan akhir tersebut.

Pemprov Jabar menargetkan berbagai langkah ini dapat menjaga keberlangsungan operasional Sarimukti di tengah tingginya volume sampah dari kawasan Bandung Raya.

Sampah Lama Bakal Diolah Jadi Solar

Untuk penanganan jangka menengah, Pemprov Jabar menyiapkan pengolahan sampah lama menggunakan teknologi pirolisis.

Instalasi pengolahan tersebut ditargetkan mulai dipasang pada akhir 2026 dan dapat beroperasi pada 2027. Kapasitasnya direncanakan mencapai sekitar 1.000 ton sampah lama per hari untuk diolah menjadi bahan bakar solar.

Menurut Herman, rencana ini merupakan bagian dari kerja sama yang difasilitasi pemerintah bersama TNI Angkatan Darat dan mitra terkait.

Pemprov Jabar akan mendukung pelaksanaannya melalui penyediaan akses jalan, perizinan, serta fasilitasi lainnya.

“Mudah-mudahan akhir tahun ini sudah terpasang instalasinya, kemudian bisa operasional 2027. Seribu ton sampah lama bisa diolah menjadi solar,” ujar Herman.

Selain pirolisis, pemerintah daerah juga menjajaki pemanfaatan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), yakni bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari pengolahan sampah.

Namun, penerapan teknologi RDF masih membutuhkan kepastian pihak penyerap hasil produksi atau off-taker, serta kesiapan teknis dan sumber daya manusia agar fasilitas dapat beroperasi secara optimal.

25.000 Mahasiswa Dilibatkan Edukasi Warga

Herman menegaskan, penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan penambahan kapasitas TPA atau teknologi pengolahan. Pengurangan sampah dari sumbernya juga harus menjadi perhatian utama.

Karena itu, Pemprov Jabar menggandeng perguruan tinggi untuk melibatkan 25.000 mahasiswa dalam edukasi dan pendampingan masyarakat selama tiga bulan mulai Oktober 2026.

Para mahasiswa akan membantu masyarakat mengurangi, memilah, memanfaatkan, dan mengolah sampah sejak dari sumbernya.

Program ini menyasar rumah tangga, rumah makan, hotel, perkantoran, serta berbagai aktivitas masyarakat di kawasan Bandung Raya.

Mahasiswa yang terlibat akan mendapatkan konversi kegiatan menjadi 10 satuan kredit semester (SKS). Mereka juga akan dibekali modul dan perangkat digital sebagai panduan pelaksanaan di lapangan.

Pemprov Jabar turut mendorong keterlibatan TNI, Pramuka, perguruan tinggi, dan berbagai unsur masyarakat lainnya untuk memperkuat gerakan pengelolaan sampah.

“Ini sinergi pemerintah daerah, bahu-membahu dengan perguruan tinggi, mahasiswa, TNI, kami juga akan kerahkan Pramuka dan seluruh komponen masyarakat lainnya,” kata Herman.

Sarimukti Ditargetkan Bertahan hingga 2029

Melalui kombinasi penanganan di hulu dan hilir, Pemprov Jabar berharap operasional TPA Sarimukti dapat dipertahankan hingga akhir 2029.

Selanjutnya, pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Waste to Energy di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka ditargetkan beroperasi penuh pada 2030.

Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem pengelolaan sampah di Jawa Barat. Namun, keberhasilannya juga bergantung pada pengurangan sampah dari sumber, kesiapan infrastruktur, dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.*