banner 1280x160

Pelantikan PAC Paguyuban Pasundan se-Kota Bandung Dimeriahkan Drama Tari-Musik Rakeyan Sancang

Pengurus Anak Cabang Paguyuban Pasundan se-Kota Bandung masa bakti 2026-2031 resmi dilantik.

BALIKBANDUNG.id – Pengurus Anak Cabang (PAC) Paguyuban Pasundan se-Kota Bandung masa bakti 2026-2031 resmi dilantik. Pelantikan ini dirangkaikan dengan pergelaran drama tari-musik berbasis budaya Sunda “Rakeyan Sancang” di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK), Jalan Naripan, Kota Bandung, Senin (28/9/2026).

Pelantikan PAC Paguyuban Pasundan menjadi bagian dari upaya memperkuat regenerasi dan pengabdian organisasi.

Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan, Prof. Dr. HM. Didi Turmudzi, M.Si., mengaku bangga dan kagum menyaksikan pertunjukan yang mengangkat kisah sejarah Sunda tersebut.

Menurut Didi, Rakeyan Sancang tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga menghadirkan pesan dan nilai yang dapat menjadi tuntunan bagi masyarakat.

Drama Rakeyan Sancang menampilkan perjalanan pencarian jati diri, pengabdian, dan perjuangan dalam balutan budaya Sunda.

“Saya hari ini merasa bangga, merasa bahagia, dan merasa kagum. Pertunjukan ini menampilkan tontonan sekaligus tuntunan yang tentu harus dilestarikan dan kita apresiasi,” ujar Didi.

Ia bahkan mengaku tersentuh dengan penampilan para pemain yang dinilainya tampil secara profesional.

“Saya sampai terakhir meneteskan air mata, begitu sangat menyentuh perasaan saya,” katanya.

Didi menilai sejarah tatar Sunda memiliki banyak kisah perjuangan dan keteladanan yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda. Nilai perjuangan, pengorbanan dan kegigihan tersebut diharapkan terus diwariskan melalui proses regenerasi.

Pertunjukan Rakeyan Sancang menghadirkan kisah sejarah Sunda melalui perpaduan tari, musik, dan seni teater.

“Mudah-mudahan regenerasi penerus ini akan termotivasi. Saya ucapkan selamat kepada yang punya lakon ini. Hebat, luar biasa. Acungan jempol,” ungkapnya.

Pengurus Baru Didorong Perkuat Nilai Kesundaan

Di sisi lain, pelantikan PAC Paguyuban Pasundan se-Kota Bandung menjadi momentum untuk memperkuat regenerasi organisasi.

Didi mengatakan, menjadi pengurus Paguyuban Pasundan bukan hanya berkaitan dengan jabatan, tetapi juga bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Pelantikan pengurus baru membawa mandat untuk menjaga, mengembangkan, dan melestarikan nilai kesundaan serta keislaman.

Ia menegaskan, para pengurus memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus mengembangkan nilai kesundaan dan keislaman.

“Dengan mereka mau saja menjadi pengurus, itu luar biasa. Karena bagaimanapun juga nilai-nilai kesundaan dan keislaman harus terus dijaga, dikembangkan, dan dilestarikan oleh setiap warga Pasundan,” ujarnya.

Menurut Didi, visi Paguyuban Pasundan juga mencakup upaya meminimalisasi kebodohan dan kemiskinan, serta menjaga dan memelihara budaya Sunda dan nilai-nilai keislaman.

“Tekad kami sesuai dengan visi, meminimalisir kebodohan, meminimalisir kemiskinan, serta menjaga dan memelihara budaya Sunda dan nilai-nilai keislaman,” katanya.

Ia menambahkan, proses regenerasi perlu dibangun melalui silaturahmi antarkader dan masyarakat agar nilai-nilai yang diperjuangkan Paguyuban Pasundan dapat terus diteruskan kepada generasi berikutnya.

“Rakeyan Sancang” Kenalkan Sejarah Sunda dan Islam

Sementara itu, Ketua Bidang Budaya Paguyuban Pasundan sekaligus Ketua Lembaga Budaya Sunda Universitas Pasundan (Unpas), Ade Priangani, mengatakan pertunjukan Rakeyan Sancang merupakan bagian dari upaya pemajuan kebudayaan dan pendidikan karakter berbasis budaya daerah.

Kisah Rakeyan Sancang membawa penonton mengenal sejarah, budaya Sunda, serta perjalanan nilai-nilai Islam di tatar Sunda.

Pertunjukan ini mengangkat sosok Rakeyan Sancang dalam narasi sejarah yang berkaitan dengan awal interaksi budaya Sunda dan Islam.

Gagasan tersebut salah satunya terinspirasi dari ungkapan Haji Hasan Mustapa, “Urang Sunda mah geus Islam saméméh Islam.”

Gerak tari menjadi bagian dari visualisasi nilai perjuangan dan keteladanan dalam kisah Rakeyan Sancang.

Dalam kisah yang diangkat, Rakeyan Sancang disebut sebagai putra Prabu Kertawarman, Raja Tarumanagara ke-8. Ia dikisahkan hidup pada masa Rasulullah SAW dan kemudian berguru kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Dalam sejumlah manuskrip dan tradisi lisan yang menjadi rujukan pertunjukan, Rakeyan Sancang juga dikenal dengan nama Malik al-Hindi atau Abdullah As-Samudri.

Para penampil Rakeyan Sancang menggambarkan perjalanan kisah sejarah Sunda dalam balutan seni pertunjukan.

Setelah berguru kepada Sayyidina Ali, Rakeyan Sancang dikisahkan kembali ke tanah Sunda dan mengajarkan agama Islam. Kisah tersebut kemudian divisualisasikan melalui drama tari-musik yang mengangkat perjalanan pencarian jati diri, pengabdian, hingga metode dakwah dalam mengenalkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat Sunda.

“Alhamdulillah kita bisa memvisualkan kisah sejarah tentang Rakeyan Sancang. Mudah-mudahan ini bisa berlanjut,” kata Ade.

Ia juga mengajak media, pemerintah daerah dan berbagai pihak untuk bersama-sama mendukung pelestarian budaya.

Libatkan Seniman dan Generasi Muda

Pergelaran Rakeyan Sancang melibatkan seniman, aktor, penari dan pemusik dari berbagai kalangan. Di antaranya dosen, guru, mahasiswa, siswa serta komunitas seni di Bandung Raya.

Pertunjukan berlangsung di Gedung YPK Kota Bandung pada 28-29 September 2026. Setiap harinya terdapat tiga sesi pertunjukan, yakni pukul 09.30 WIB, 12.30 WIB dan 15.30 WIB.

Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan, Didi Turmudzi berfoto bersama para pemain dan pendukung pertunjukan Rakeyan Sancang usai pementasan di Gedung YPK Bandung.

Pergelaran ini ditujukan bagi pelajar SMP, SMA, SMK serta masyarakat umum. Melalui pertunjukan tersebut, sejarah dan budaya Sunda dikemas dalam bentuk seni pertunjukan agar lebih dekat dengan generasi penerus.

Bagi Paguyuban Pasundan, kegiatan ini menjadi salah satu ruang untuk ngamumule, ngarawat dan ngariksa budaya Sunda, sekaligus memperkuat regenerasi nilai budaya dan keislaman di tengah masyarakat.*