banner 1280x160

Bio Farma Dorong Manufaktur Vaksin Jadi Infrastruktur Strategis Ketahanan Kesehatan Global

Balikbandung.id – PT Bio Farma (Persero) mendorong penempatan kapasitas manufaktur vaksin lokal sebagai bagian dari infrastruktur strategis guna memperkuat ketahanan kesehatan global. Keberadaan fasilitas produksi di kawasan sendiri menjadi benteng utama saat dunia menghadapi krisis pasokan pasca-pandemi.

Direktur Utama PT Bio Farma, Shadiq Akasya, menyampaikan gagasan tersebut dalam side event Sidang Majelis Umum PBB ke-81 (UNGA 81) di New York pada 22 September 2026.

“Ketika kita berbicara tentang integrasi kawasan, biasanya yang terlintas adalah jalan, pelabuhan, dan jaringan listrik. Namun, pandemi menunjukkan kepada kita sesuatu yang lain. Kemampuan untuk memproduksi vaksin di kawasan sendiri juga merupakan infrastruktur yang sangat penting. Dalam situasi krisis, ketika pasokan berhenti di perbatasan, kemampuan produksi di dalam negeri menjadi sangat krusial,” ujar Shadiq.

BACA JUGA LUR: Cegah Kanker Serviks, Bio Farma dan DWP Perluas Akses Vaksinasi HPV

Forum yang diinisiasi oleh Islamic Development Bank (IsDB) dan UNOSSC ini mempertemukan para pembuat kebijakan dunia untuk membahas kerja sama South-South and Triangular Cooperation (SSTrC). Bio Farma menawarkan pendekatan kerangka kerja 4S + 1F (Stronger Health Systems, Stronger Regulators, Stronger Procurement, Stronger Manufacturing, serta Financing) untuk membangun ekosistem vaksin yang utuh dan berkelanjutan.

“Tanpa demand yang berkelanjutan, fasilitas produksi baru tidak akan dapat bertahan. Karena itu, pembangunan manufaktur harus berjalan bersama dengan penguatan sistem kesehatan, regulator, pengadaan, dan pembiayaan,” tutur Shadiq menegaskan.

Penerapan konsep ini tecermin melalui kerja sama Bio Farma dengan Institut Pasteur de Dakar (IPD) di Senegal lewat mekanisme Reverse Linkage. Sejak Februari 2026, tim ahli Bio Farma mendampingi IPD dalam pengoperasian fasilitas berstandar Good Manufacturing Practices (GMP) serta pengembangan mutu.

“Kerja sama kami tidak dimulai dengan Bio Farma menawarkan sesuatu. Kerja sama ini dimulai ketika Institut Pasteur de Dakar datang ke Bandung, mengunjungi fasilitas produksi kami, dan menyampaikan apa yang perlu mereka pelajari. Ketika mitra sendiri yang meminta bantuan, maka mitra juga memiliki rasa kepemilikan terhadap hasilnya,” jelas Shadiq.

BACA JUGA LUR: Warga Bisa Urus Pajak Hingga Pantau CCTV Kota melalui ‘Halo Bandung’

Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, BUMN asal Indonesia ini berencana memperluas jangkauan kolaborasi ke negara-negara anggota OIC, ASEAN, hingga Amerika Latin. Bio Farma juga menyatakan kesiapan penuh untuk menjadi training hub bagi negara-negara berkembang demi mewujudkan kemandirian kesehatan dunia.

“Kepercayaan tidak dibangun hanya melalui pernyataan. Kepercayaan dibangun melalui satu batch, satu pelatihan, dan satu kemitraan pada satu waktu. Bio Farma siap untuk terus membangun kepercayaan tersebut bersama IsDB, UNOSSC, dan seluruh mitra,” kata Shadiq menutup keterangannya.***