banner 1280x160

Sekda Jabar: Pencak Silat Tradisional Jadi Sarana Bentuk Karakter Generasi Muda

Sekda Jabar Herman Suryatman menegaskan, pencak silat tradisional bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga sarana membentuk generasi muda yang tangguh, berintegritas, dan berkarakter. Pelestariannya menjadi bagian penting dalam mewujudkan SDM unggul di Jawa Barat. (Foto ilustrasi AI)

BALIKBANDUNG.id – Pencak silat tradisional dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda yang tangguh, berintegritas, dan berbudaya. Selain menjadi warisan leluhur, seni bela diri ini juga mengandung nilai moral dan spiritual yang relevan dengan tantangan zaman.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, mengatakan pencak silat tradisional tidak sekadar menjadi kesenian yang perlu dilestarikan. Tradisi tersebut juga dapat menjadi sarana pendidikan karakter melalui pembinaan di setiap paguyuban.

“Pertempuran sejati hari ini adalah memupuk mental dan memperkuat spiritual generasi muda agar tidak rapuh. Salah satu alatnya adalah warisan leluhur yang harus kita jaga, yaitu pencak silat tradisional,” ujar Herman.

Pernyataan itu disampaikan saat acara Penandatanganan Piagam Penghargaan dan Pelantikan Pengurus Keluarga Pencak Silat Tradisional Indonesia (KPSTI) se-Bandung Raya di Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Suniaraja, Kota Bandung, Sabtu (10/10/2026). Herman hadir mewakili Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Bukan Sekadar Seni Bela Diri

Herman menjelaskan, pencak silat tradisional memiliki dua dimensi, yakni sebagai tontonan dan tuntunan. Dari sisi tontonan, pencak silat menghadirkan keindahan gerak, musik, dan unsur seni yang dapat dinikmati masyarakat.

Sementara sebagai tuntunan, pencak silat menyimpan nilai-nilai kehidupan yang dapat membentuk kepribadian seseorang. Nilai tersebut meliputi keberanian, kejujuran, kerendahan hati, kesabaran, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, hingga kolaborasi.

“Di dalam pencak silat ada tontonan dan ada tuntunan. Setiap jurus tidak lahir begitu saja, tetapi berangkat dari perjalanan spiritual dan pasti memiliki makna,” tuturnya.

Menurut Herman, nilai-nilai tersebut sejalan dengan kebutuhan pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul di Jawa Barat. Karena itu, pelestarian pencak silat tradisional perlu dilakukan secara berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan generasi muda.

Perkuat Karakter Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer

Herman menambahkan, pengembangan pencak silat tradisional sejalan dengan semangat pembangunan Jawa Barat Istimewa. Tradisi ini dapat menjadi salah satu ruang pembinaan generasi muda agar memiliki karakter cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.

Ia juga menyoroti hubungan antara pencak silat dan pendidikan agama yang telah berkembang di sejumlah lingkungan masyarakat Sunda. Keduanya dapat berjalan beriringan untuk membentuk generasi yang tidak hanya terampil secara fisik, tetapi juga memiliki landasan spiritual yang kuat.

“Di beberapa lingkungan masyarakat, pencak silat dan mengaji berjalan beriringan. Dalam pencak silat bisa disisipkan nilai-nilai keagamaan. Ini sangat baik karena membentuk generasi yang tidak hanya terampil, tetapi juga memiliki karakter dan landasan spiritual yang kuat,” kata Herman.

Pemprov Jabar Dorong Kolaborasi Pelestarian

Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyatakan komitmennya untuk mendukung pelestarian pencak silat tradisional sesuai kemampuan dan sumber daya yang tersedia.

Kolaborasi antara pemerintah, komunitas pencak silat, tokoh budaya, dan masyarakat dinilai diperlukan agar warisan leluhur tersebut tetap hidup dan berkembang di tengah generasi muda.

Melalui upaya tersebut, pencak silat tradisional diharapkan tidak hanya bertahan sebagai identitas budaya Sunda, tetapi juga terus menjadi sarana pembelajaran nilai kehidupan bagi generasi penerus.*