banner 1280x160

Badaya Jadi Panggung Pelestarian, Pemkot Bandung Perkuat Ruang Apresiasi Seniman Sunda

Badaya Pemkot Bandung
(FOTO: Diskominfo Kota Bandung)

BalikBandung – Pemerintah Kota Bandung kembali menegaskan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya lokal melalui gelaran Bandung Utama Ngabudaya (Badaya). Ajang apresiasi ini dihelat di Lapang Parkir Sarana Olahraga, Gg. Lapang Tennis 81, Kecamatan Babakan Ciparay, pada Minggu, 25 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi wadah unjuk gigi bagi para seniman, tetapi juga langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan berbagai kesenian tradisional agar tetap hidup dan tumbuh di tengah dinamika masyarakat perkotaan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang hadir dalam acara tersebut, menekankan pentingnya seni sebagai bagian dari identitas masyarakat yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Seni, kata Farhan adalah bentuk ekspresi budaya yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat kita. Melalui ruang seperti Badaya ini, kita ingin memastikan para seniman memiliki panggung yang layak sekaligus merawat nyala api tradisi Sunda di Kota Bandung

Melalui penyelenggaraan Badaya, Pemkot Bandung berharap ekosistem kesenian tradisional dapat terus bergeliat, memberikan ruang bagi seniman lokal untuk berekspresi, serta mendekatkan kembali masyarakat kepada kekayaan budaya Sunda.

BACA JUGA: 3.000 Mahasiswa Telkom University Turun ke Masyarakat, Fokus Edukasi Pengelolaan Sampah

“Sebetulnya, budaya itu masuk ke dalam jiwa kita, masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan kita melalui nilai dan norma. Namun, ekspresi yang paling terlihat dari budaya adalah seni. Karena itu, kita harus menghargai seni,” ujar Farhan.

Menurutnya, pelestarian budaya perlu didukung dengan ruang yang memungkinkan para seniman terus berkarya dan menampilkan kemampuannya kepada masyarakat.

Salah satu upaya yang disiapkan adalah menghidupkan kembali Gedung Kesenian Rumentang Siang sebagai ruang pertunjukan seni tradisional. Farhan berencana menghadirkan empat jenis kesenian, yakni wayang golek, jaipongan, pencak silat, dan Kembang Sunda.

“Pokoknya, Rumentang Siang kita penuhi setiap Minggu. Setuju?” ucapnya saat menyampaikan rencana tersebut.

Farhan juga menyebutkan, pertunjukan wayang golek direncanakan berlangsung satu kali setiap bulan. Adapun pertunjukan jaipongan dan Kembang Sunda akan melalui proses seleksi, sementara pencak silat menjadi salah satu kesenian yang turut disiapkan untuk ditampilkan.

Ia meminta jajaran perangkat daerah terkait memperhatikan dukungan anggaran agar upaya menghidupkan ruang pertunjukan tersebut dapat berjalan.

Upaya Melestarikan Budaya Sunda

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa menjelaskan, Badaya merupakan kegiatan kebudayaan yang bertujuan memperkenalkan, mengapresiasi, dan melestarikan kekayaan seni budaya yang berkembang di masyarakat.

“Kegiatan Badaya kita laksanakan di tiga wilayah. Wilayah Bandung Timur sebelumnya dilaksanakan di Kelurahan Rancasari, kemudian wilayah Bandung Tengah di Kecamatan Sumur Bandung, dan hari ini wilayah Bandung Barat di Kecamatan Babakan Ciparay,” kata Adi.

Menurutnya, pelaksanaan Badaya di sejumlah wilayah memberikan kesempatan untuk mengenali karakteristik dan potensi seni budaya yang berbeda di setiap kawasan Kota Bandung.

Adi berharap kegiatan tersebut dapat diperluas pada tahun mendatang. Ia juga menyebutkan bahwa Badaya berpotensi menjadi bagian dari kalender pariwisata Kota Bandung, sehingga dapat menarik wisatawan sekaligus menjadi hiburan bagi masyarakat.

“Dengan demikian, Badaya bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan sekaligus menjadi hiburan bagi warga di sekitarnya,” ujarnya.

BACA JUGA: Kebakaran Gunung Ciremai Relatif Padam dalam Dua Hari, 30 Hektare Lahan Terdampak

Apresiasi terhadap penyelenggaraan Badaya juga disampaikan anggota DPRD Kota Bandung Heri Hermawan. Ia menilai kegiatan tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan budaya Sunda, terutama karena wilayah Bandung Kulon, Babakan Ciparay, dan Bojongloa Kidul memiliki banyak pelaku seni.

“Ngabudaya ini sangat luar biasa karena merawat budaya Sunda merupakan tanggung jawab kita bersama,” kata Heri.

Ia berharap kegiatan budaya seperti Badaya dapat terus diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi terhadap para seniman sekaligus dikembangkan menjadi agenda yang mampu menarik kunjungan masyarakat ke Kota Bandung.

“Masih banyak potensi luar biasa di Kota Bandung terkait dengan budaya Sunda. Mari kita lestarikan budaya Sunda karena merawat budaya Sunda merupakan tanggung jawab kita bersama,” tuturnya.

Melalui Badaya, Pemkot Bandung mendorong agar seni dan budaya Sunda tidak hanya dipertahankan sebagai warisan, tetapi juga terus mendapat ruang untuk berkembang, ditampilkan, dan dikenal oleh masyarakat luas.***