BalikBandung – Pemkot Bandung terus mematangkan langkah strategis dalam membangun ketangguhan kota menghadapi ancaman bencana. Melalui penguatan kesiapsiagaan berbasis kewilayahan, Pemkot Bandung resmi mengoptimalkan program Siskamling Siaga Bencana sebagai garda terdepan perlindungan masyarakat.
Inisiatif ini ditargetkan mampu memangkas Indeks Risiko Bencana (IRB) Kota Bandung secara signifikan, dari angka 95,15 menjadi 85,15.
Target tersebut hendak dicapai melalui serangkaian langkah konkrit: penguatan kesiapsiagaan warga, peningkatan kapasitas aparat kewilayahan, serta kolaborasi ketat lintas sektor.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa penanggulangan dan pengurangan risiko bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat.
Upaya mengurangi risiko bencana membutuhkan keterlibatan masyarakat yang didukung perencanaan matang, penguatan kapasitas, serta sistem penanganan yang terintegrasi.
Menghubungkan Warga dan Pemerintah saat Darurat
Lebih dari sekadar pos ronda biasa, Siskamling Siaga Bencana dirancang sebagai jembatan komunikasi dan aksi cepat antara warga dengan jajaran pemerintah daerah saat situasi darurat melanda.
Melalui program ini, masyarakat tidak lagi hanya menjadi objek penyelamatan, melainkan subjek aktif yang dibekali pemahaman dan keterampilan mitigasi awal. Keterhubungan yang makin erat antara pos siaga di tingkat RT/RW dengan sistem penanganan bencana kota diharapkan dapat mempercepat respons tanggap darurat dan meminimalkan potensi kerugian.
Dengan semangat gotong royong yang dilembagakan lewat Siskamling Siaga Bencana, Kota Bandung optimistis dapat mewujudkan lingkungan yang lebih aman, siap, dan tangguh menghadapi berbagai potensi bencana di masa depan.
“Bencana mungkin tidak selalu dapat kita cegah, tetapi kita dapat memastikan bahwa masyarakat Bandung tidak menghadapinya tanpa kesiapan dan dalam kesendirian,” kata Farhan saat membuka Simposium Penguatan Budaya Tangguh Bencana Berbasis Komunitas, Selasa, 20 Oktober 2026.
BACA JUGA: Misi Sulit Madura United Pertahankan Rekor Kandang Lawan Persib
Menurut Farhan, Siskamling Siaga Bencana yang mulai dijalankan pada 22 September 2026 mengusung semangat Warga Jaga Warga, Warga Jaga Kota. Inisiatif ini tidak hanya mendorong keterlibatan masyarakat, tetapi juga membangun kebiasaan mengenali risiko, mempersiapkan keluarga, dan menghubungkan inisiatif warga dengan sistem penanganan bencana pemerintah.
Kota Bandung menghadapi beragam potensi bencana, mulai dari kebakaran dan tanah longsor hingga risiko gempa bumi yang berkaitan dengan Sesar Lembang. Dengan jumlah penduduk sekitar 2,6 juta jiwa yang tersebar di 30 kecamatan, 151 kelurahan dan 1.597 RW, penguatan kesiapsiagaan membutuhkan keterlibatan masyarakat sekaligus koordinasi lintas perangkat daerah.
“Pemerintah harus memastikan masyarakat memiliki pengetahuan, kapasitas dan akses terhadap sistem penanganan kedaruratan. Warga dapat menjadi bagian penting dalam mengenali risiko dan melakukan deteksi dini, sementara pemerintah memastikan koordinasi, dukungan dan penanganan berjalan sesuai kewenangan,” ujarnya.
Memperkuat Layanan dan Sistem Peringatan Dini
Selain kesiapsiagaan masyarakat, Farhan menekankan pentingnya layanan kedaruratan yang mudah diakses, respons yang cepat, serta koordinasi yang efektif dalam penanganan bencana.
Ia menyampaikan bahwa pengujian terhadap layanan 112 untuk kedaruratan umum, 113 untuk pemadam kebakaran, dan 119 untuk kegawatdaruratan medis menunjukkan respons dalam waktu kurang dari 15 menit. Hasil pengujian tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi bagi Pemkot Bandung untuk terus memperkuat kesiapan layanan, meningkatkan koordinasi antarpihak, dan mengoptimalkan penanganan kedaruratan.
Menurut Farhan, kesiapan layanan perlu terus ditingkatkan agar masyarakat memperoleh penanganan yang tepat sesuai kebutuhan dan tingkat kedaruratan. Evaluasi berkala juga diperlukan untuk memastikan mekanisme komunikasi, koordinasi, dan tindak lanjut laporan berjalan semakin efektif.
Pemkot Bandung juga menjajaki penguatan sistem komunikasi peringatan dini melalui pemanfaatan frekuensi Radio Republik Indonesia (RRI), termasuk kemungkinan penggunaan perangkat penerima informasi peringatan bagi masyarakat. Pengembangan ini diarahkan untuk memperluas jangkauan penyampaian informasi ketika terjadi situasi darurat.
BACA JUGA: Nirbobol 90 Menit, Fitrah Maulana Bongkar Peran Sosok Penting Ini di Balik Layar!
Di tingkat kewilayahan, pemetaan risiko dan pendataan warga rentan menjadi bagian penting dalam mendukung perencanaan evakuasi dan penanganan darurat. Edukasi serta simulasi kebencanaan secara berkala juga perlu diperkuat dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, komunitas, dan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).
Farhan menjelaskan, Siskamling Siaga Bencana diarahkan menjadi wadah koordinasi berbagai unsur, antara lain BPBD, Dinas Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Sosial, Satpol PP, Linmas, Posyandu, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas masyarakat.
Ia menegaskan bahwa keberlanjutan fungsi kesiapsiagaan harus menjadi perhatian bersama. Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat, koordinasi lintas sektor, dan integrasi dalam tata kelola kewilayahan perlu terus dikembangkan agar manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan.
“Yang paling penting adalah bagaimana budaya siaga bencana menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan terus berjalan. Kolaborasi, integrasi, dan pelaksanaan berbasis risiko serta berorientasi kepada masyarakat menjadi kunci untuk membangun ketangguhan kota,” katanya.
Melalui penguatan Siskamling Siaga Bencana, Pemkot Bandung mendorong tumbuhnya masyarakat yang lebih siap menghadapi risiko bencana, didukung koordinasi lintas sektor dan sistem penanganan kedaruratan yang semakin terintegrasi.
Farhan menegaskan, ketangguhan Bandung dibangun melalui tiga pilar: menjaga diri, menjaga sesama, dan memastikan pemerintah hadir dalam penanganan bencana.
“Warga jaga warga, warga jaga kota. Kota nu urang sadayana,” tuturnya.***







