banner 1280x160

Cegah Kebakaran Sebelum Sirene Berbunyi, Diskarmatan Kota Bandung Bangun Kesadaran Kolektif Warga

kebakaran kota bandung
FOTO: Diskominfo Kota Bandung

BalikBandung – Percikan api sering kali tak mengetuk pintu sebelum menjadi petaka kebakaran. Kompor yang terlupa saat memasak, selang gas yang mulai merasas rapuh, hingga tumpukan instalasi listrik yang tak terawat, menjadi ancaman nyata yang kerap mengintai di tengah kesibukan warga Kota Bandung.

Namun, melindungi Kota Bunga dari ancaman si jago merah tidak bisa lagi sekadar mengandalkan deru sirene dan kesiapan armada pemadam yang tiba saat keadaan darurat meletus. Kesadaran dan tindakan pencegahan dini dari dalam rumah justru menjadi benteng pertahanan paling kuat.

Kepala Bidang Pencegahan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung, Adhli Al Afwan Izwar, menegaskan pentingnya pergeseran paradigma dalam memandang peran petugas pemadam kebakaran di tengah masyarakat.

“Selama ini kalau melihat atau mendengar tentang pemadam kebakaran, konteksnya lebih kepada memadamkan api. Sekarang kami ingin mengubah paradigma bahwa pemadam kebakaran seharusnya hadir sebelum permasalahan kebakaran terjadi. Itulah tujuan kami di bidang pencegahan,” ujar Adhli di Mako Diskarmatan Kota Bandung, belum lama ini.

Bidang Pencegahan menjalankan edukasi, pendampingan masyarakat, pembinaan relawan kebakaran, serta pemeriksaan sarana proteksi kebakaran di berbagai tempat. Dunia usaha juga didorong untuk mengambil peran, terutama dalam memastikan gedung memiliki sistem keselamatan yang memadai.

Edukasi diberikan kepada berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak PAUD, TK, dan SD hingga masyarakat umum.

Pada kesempatan tertentu, markas juga menerima kunjungan anak-anak sekolah yang ingin mengenal profesi pemadam kebakaran dan penyelamatan. Bagi masyarakat, kunjungan itu menjadi kesempatan melihat lebih dekat kendaraan serta peralatan yang selama ini hanya mereka jumpai ketika terjadi keadaan darurat.

BACA JUGA: Tekan Indeks Risiko Bencana di Kota Bandung, Farhan Dorong Kesiapsiagaan Berbasis Warga

Risiko tersebut bisa muncul dari aktivitas sehari-hari, seperti meninggalkan kompor saat memasak, menggunakan regulator atau selang gas yang sudah tidak layak, hingga mengabaikan kondisi instalasi listrik.

“Kami mengajak masyarakat untuk memperhatikan potensi-potensi risiko kebakaran yang ada di wilayah dan lingkungannya, terutama rumah. Misalnya, aktivitas memasak yang berpotensi menimbulkan kebakaran apabila ditinggalkan, selang gas yang kurang layak, serta masalah kelistrikan,” kata Adhli.

Edukasi tidak berhenti pada pengenalan bahaya. Masyarakat juga perlu mengetahui cara mencegah kebakaran dan tindakan yang tepat ketika kejadian berlangsung.

Upaya serupa dilakukan terhadap dunia usaha, terutama pengelola gedung bertingkat. Mereka didorong memiliki manajemen keselamatan kebakaran gedung yang memastikan sarana proteksi diperiksa secara rutin, jalur evakuasi tersedia, dan setiap orang memahami perannya saat keadaan darurat.

Pengelola gedung juga perlu menyiapkan pembagian tugas yang jelas, termasuk siapa yang memandu evakuasi dan bagaimana penanganan awal dilakukan secara aman.

Membangun kesadaran di seluruh Kota Bandung bukan pekerjaan ringan. Adhli menjelaskan, idealnya satu petugas pemadam kebakaran menangani sekitar 5.000 penduduk.

Dengan jumlah penduduk Bandung sekitar 2,5 juta jiwa, kebutuhan idealnya mencapai 500 personel, sementara jumlah yang tersedia saat wawancara sekitar 300 orang.

Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan petugas untuk menjangkau seluruh lingkungan. Partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun perlindungan yang lebih luas. Salah satu upayanya adalah pembentukan relawan pemadam kebakaran atau Redkar.

Redkar diharapkan membantu memberikan edukasi, memetakan risiko, serta memeriksa sarana dan prasarana kebakaran di lingkungan masing-masing.

Selain relawan, Diskarmatan mengembangkan pendekatan berbasis kewilayahan melalui penempatan satu personel penghubung di setiap kecamatan. Model tersebut sedang diuji di Kecamatan Sukasari dan Bojongloa Kidul untuk memperkuat koordinasi antara dinas, kecamatan, kelurahan, dan masyarakat.

Bagi Adhli, pencegahan penting karena kebakaran tidak hanya menyebabkan kerugian materi, tetapi juga dapat mengancam nyawa. Ia menjelaskan adanya periode lima menit awal yang sangat menentukan perkembangan kebakaran.

BACA JUGA: Misi Sulit Madura United Pertahankan Rekor Kandang Lawan Persib

“Dalam lima menit awal itu menentukan apakah kebakaran akan membesar dan membahayakan lingkungan ataupun jiwa. Apabila kebakaran bisa diantisipasi atau dilakukan pemadaman dini, dampaknya tentu sangat besar. Lebih baik lagi kalau kebakaran tidak terjadi,” tuturnya.

Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri mengenali risiko, memeriksa kondisi peralatan, dan mengetahui cara melaporkan kejadian. Pengetahuan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang tangguh menghadapi kebakaran.

Diskarmatan juga tengah melakukan penelitian bersama kalangan akademisi untuk menghitung Fire Resilience Index (Firli) atau indeks ketangguhan kebakaran. Selain itu, dinas menyusun rencana induk sistem proteksi kebakaran untuk mendukung penguatan upaya pencegahan di Kota Bandung.

Adhli menyebut, ketangguhan bukan berarti suatu wilayah sama sekali bebas dari kebakaran. Yang lebih penting adalah kemampuan masyarakat meminimalkan kemungkinan terjadinya kebakaran serta mengurangi dampaknya.

Ia mengajak warga menjadikan pencegahan sebagai kebiasaan bersama, bukan hanya mengandalkan petugas ketika musibah terjadi.

“Mari kita mulai membiasakan diri menjadikan budaya pencegahan sebagai kebiasaan baru di masyarakat. Kenali risiko yang berpotensi menjadi kebakaran, bagaimana mencegahnya, bagaimana memeriksanya, dan bagaimana melaporkannya kepada dinas,” kata Adhli.

Pada akhirnya, keberhasilan tidak selalu terlihat dari kobaran api yang berhasil dipadamkan. Keberhasilan juga hadir ketika warga mampu mengenali bahaya lebih awal, relawan aktif menjaga lingkungan, dan satu potensi kebakaran berhasil dicegah sebelum menjadi musibah.

Sebab, sebelum sirene berbunyi, ada tanggung jawab bersama untuk menjaga Kota Bandung tetap aman.***